Petani Sumut Didorong Tinggalkan Pupuk Kimia dan Produksi Kompos Sendiri

TrubusNews
Reza Perdana | Followers 2
18 Jan 2019   23:00

Komentar
Petani Sumut Didorong Tinggalkan Pupuk Kimia dan Produksi Kompos Sendiri

Proses pembuatan pupuk kompos. (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Berbagai pola pertanian kimiawi terbukti meninggalkan jejak kerusakan tanah dan hilangnya unsur-unsur hara. Karena itu, pola pertanian yang mengandalkan zat kimia kini sudah mulai ditinggalkan. Sistem pertanian saat ini kini sudah mulai banyak yang mengubah pola pertaniannya dengan cara organik.

Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu Entomologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Professor Maryani Cyccu Tobing mengatakan, pola pertanian organik cukup mudah diterapkan. Untuk membuat bahan baku puput organik pun cukup banyak dan mudah diperoleh dari alam sekitar. Karenannya, tidak ada alasan untuk tidak membuat pupuk kompos organik untuk menyuburkan tanah.

Professor Maryani juga mengatakan, telah terjadi ketergantungan terhadap pestisida dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Baik itu dosis, campuran, frekuensi, metode, tidak dilakukan sesuai rekomendasi dan aturannya. 

"Begitu pula dengan keamanan saat menyemprot tidak diperhatikan dan kesehatan konsumen tidak diperhitungkan," katanya, Jumat (18/1).

Baca Lainnya : Jaga Kelestarian Lingkungan Untuk 4 Juta KK di Sumut yang Hidup pada Perkebunan

Professor Maryani menyebut, banyak petani yang belum mempunyai cukup pengetahuan tentang hama, dan penyakit maupun gejalanya. Selain itu, petani memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pestisida.  "Penyuluhan dan pelatihan tentang keduanya sangat dibutuhkan oleh petani," sebutnya. 

Di Desa Lumban Purba, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, petani kopi dan sayuran sudah mencoba membuat pupuk kompos. Bahan baku mulai dari dedaunan, jerami, batang pisang, buah-buahan yang sudah membusuk, dan lain sebagainya. 

Semuanya difermentasi selama beberapa waktu. Kemudian diterapkan pada tanaman sayuran maupun kopi. Di desa tersebut, sayuran seperti kubis, cabai, dan lain sebagainya, banyak dikembangkan. Begitu juga dengan kopi. 

Sebelumnya mereka kerap menggunakan pola kimia dalam pertanamannya. Pupuk organik atau pupuk kompos hanya sedikit saja diterapkan oleh petani. Sejak adanya pendampingan dari Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), selama beberapa bulan, mereka kemudian mengerti dan mengenal pola yang selama ini dilakukan harus berubah. 

Baca Lainnya : Wereng Coklat Serang 150 Hektare Padi di Sumut 

Community Development Manager YOSL-OIC, Bubur Naibaho mengatakan, pupuk kompos sangat baik diterapkan pada semua jenis tanaman. Tidak rugi jika petani membuat dan menerapkannya. Selain bahan baku murah dan mudah didapat, juga tidak akan merusak unsur alam, justru turut melestarikannya. 

"Program mendekatkan petani terhadap pertanian organik melalui penerapan pupuk kompos di Desa Lumban Purba sudah selesai," ungkapnya.

Bubur mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang mendampingi petani jeruk di 4 kelompok tani di 4 dusun di Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Program ini sedang berjalan. Di desa ini, rata-rata petani memiliki lahan jeruk seluas 1 hektare. "Pada setiap dusun kita buat demo plot atau demplot seluas setengah hektare," ungkapnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: