Kebijakan Wajib Tanam Importir oleh Kementan Dinilai Tidak Efektif, Apa Sebabnya?

TrubusNews
Binsar Marulitua
15 Jan 2019   14:00 WIB

Komentar
Kebijakan Wajib Tanam Importir oleh Kementan Dinilai Tidak Efektif, Apa Sebabnya?

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha menilai usulan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait pemberlakuan wajib tanam untuk importir kedelai perlu dipertimbangkan, karena tidak efektif. Pemerintah sebaiknya fokus pada upaya meningkatkan produktivitas petani kedelai.

Arief menjelaskan kendala produktivitas kedelai adalah pada keterbatasan lahan, tenaga kerja, dan ketidaksesuaian iklim.

"Usaha yang lebih dibutuhkan daripada kewajiban penanaman kacang kedelai bagi importir adalah pendampingan untuk memaksimalkan produktivitas petani kacang kedelai," katanya di Jakarta, Selasa (15/1).

Sebelumnya, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian mengusulkan kewajiban tanam bagi para importir kedelai.

Baca Lainnya : Program Kementan 1 Juta Petani Milenial Dapat Menggerakkan Perekonomian Bangsa

Jika kebijakan ini telah ditetapkan dalam peraturan menteri pertanian (permentan), maka importir kedelai wajib menanam kedelai di dalam negeri, layaknya kebijakan wajib tanam bagi importir bawang putih.

Arief mengungkapkan, memang saat ini Kementan berupaya meningkatkan luas panen kedelai sehingga diharapkan ada peningkatan juga pada produksi kedelai. Akan tetapi, tambahnya kemampuan produksi kacang kedelai per hektare juga perlu ditingkatkan.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas panen tanaman kacang kedelai adalah 680.373 ha dengan tingkat produktivitas 14,44 kuintal/ha atau 1,44 ton/ha pada 2018.

Baca Lainnya : Waspada Penyakit Musim Hujan Pada Cabai, Ini Upaya Kementan

Dari angka tersebut, Arief melakukan simulasi dengan mengambil luas panen sesuai dengan angka 2018 dan mencoba meningkatkan angka produktivitas kacang kedelai sebesar 50 persen. Dengan meningkat 50 persen, maka produktivitas akan naik menjadi 2,17 ton/ha.

Dalam satu tahun, dapat dicapai jumlah produksi kedelai sebesar 1.473.688 ton. Jumlah ini meningkat signifikan daripada produksi sebelumnya yang sebesar 982.598 ton.

Arief mengakui peningkatan produktivitas kedelai bukanlah hal mudah karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai.

Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk, dan sarana produksi lain yang tepat.

Baca Lainnya : Kementan Garap Digitalisasi Wirausaha Muda Pertanian

Satu hal lagi yang harus diperhatikan, menurutnya adalah penggunaan lahan yang hanya diperuntukkan untuk kedelai.

Hal ini dikarenakan usaha produksi kedelai di Indonesia dilakukan pada musim tanam yang tidak selalu ideal untuk pertumbuhan tanaman, karena harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam.

Kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, bawang merah atau tanaman lainnya.

"Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama," kata dia. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Tiga Gunung Api di Indonesia Masih Berstatus Level III

Peristiwa   17 Jan 2020 - 15:56 WIB
Bagikan: