Potensi Tsunami di Selat Sunda Masih Ada, Berikut Ini 3 Sumbernya

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
14 Jan 2019   17:00

Komentar
Potensi Tsunami di Selat Sunda Masih Ada, Berikut Ini 3 Sumbernya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, ada tiga sumber tsunami di Selat Sunda. Yang pertama, tsunami yang bersumber dari Kompleks Gunung Anak Krakatau. Sementara yang kedua dan ketiga bersumber dari Zona Graben dan Zona Megathrust. Untuk itu, BMKG memprediksi masih ada kemungkinan potensi terjadinya kembali tsunami di Selat Sunda.

“Kompleks Gunung Anak Krakatau terdiri atas Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik,” ujarnya di Jakarta, Senin (14/1).

Kondisi ini rentan mengalami runtuhan lereng batuan atau longsor ke dalam laut dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami. Selain itu, Zona Graben yang berada di sebelah barat-barat daya Kompleks Gunung Anak Krakatau juga merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami.

Baca Lainnya : BMKG Minta Masyarakat Tetap Waspada Tsunami Selat Sunda

“Sementara itu Zona Megathrust termasuk pula sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami,” sambungnya kembali.

Sebagai informasi, sampai saat ini, BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari lima meter.

Lebih lanjut dikatakan Sadly, sebenarnya terjadi gempa bumi beruntun yang terekam di Selat Sunda pada 10-11 Januari 2019, tapi BMKG memastikan gempa tersebut tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut yang signifikan sebagai indikasi tsunami di kawasan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan bahwa pemasangan beberapa alat pantau dilakukan di sejumlah titik di Selat Sunda guna memantau aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut.

Alat-alat canggih tersebut dipasang di Pulau Sebesi, Ujung Kulon dan Labuan. Pulau Sebesi merupakan pulau terdekat dengan Kompleks Gunung Anak Krakatau yang saat ini bisa dijangkau untuk pemasangan alat.

“Pulau ini difungsikan sebagai buoy alam agar dapat memberikan rekonfirmasi lebih dini bahwa gelombang tsunami terjadi,” imbuh Dwikorita.

Baca Lainnya : Dua Status Berbeda untuk Wilayah Terdampak Tsunami Selat Sunda

Menurutnya agar pemantauan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut lebih maksimal, BMKG merekomendasikan untuk membangun BTS (Base Transceiver Station) khusus di sekitar GAK dan Ujung Kulon.

Diakui Dwikorita, BMKG juga telah melakukan penambahan instrumentasi dan fasilitas untuk pemantauan muka air laut. Antara lain, Tide Gauge atau Sensor Water Level, Buoy, dan Radar Tsunami atau HF Radar.

Penambahan peralatan ini untuk mempercepat pengiriman data hasil pengamatan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut yang terpantau.

"Dengan begitu, kita memiliki lebih banyak waktu untuk meminimalisir jumlah korban akibat gempa maupun tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda," tandasnya.

Dwikorita berharap, untuk mengantisipasi beredarnya berita bohong (hoax) terkait kondisi Selat Sunda, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi melalui website resmi BMKG. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: