Menelisik Permasalahan Sampah Plastik yang Makin Pelik

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
11 Jan 2019   21:30

Komentar
Menelisik Permasalahan Sampah Plastik yang Makin Pelik

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Berbagai polemik penanganan sampah mengemuka. Namun menurut Sugianto Tandio, Direktur teknik produsen plastik ramah lingkungan sekaligus Co Founder dan Chairman, Greenhope, jawaban dari semua masalah sampah plastik itu adalah bagaimana sampah plastik itu dapat terurai.

Ia menerangkan, kampanye 3R yang dilakukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia selama 70 tahun belakangan ini tidak menyelesaikan masalah. Ia mengakui, kampanye tersebut cukup bagus, namun bukan sebuah solusi.

Ia menjelaskan, menurut penelitiannya, setelah di 3R dilakukan beberapa kali, sampah yang dihasilkan masih tetap akan berupa plastik yang hanya akan terurai selama 1000 tahun lamanya. Hal ini lah yang menurutnya jadi tidak menyelesaikan, namun hanya menunda masalah.

Menurutnya, harus ada 1 langkah lagi yang dilakukan sehingga 3R berubah menjadi 4R agar masalah sampah bisa diatasi. R ke empat itu adalah Return to earth atau dikembalikan ke bumi alias terurai sempurna. Dengan begitu, semua sampah plastik yang dibuang di TPA harus dapat terurai.

Terkait larangan penggunaan plastik Sugianto menjelaskan, larangan itu sifatnya masih tentang merubah prilaku. Pengurangan penggunaan plastik dengan menggantikan tas belanja juga dinilainya bukan jalan keluar.

Untuk itu, guna mencari jalan keluar permasalahan ini harus dilihat secara holistik. Dia mencontohkan, negara di Eropa dan Amerika yang sebelumnya mengeluarkan regulasi terkait tas belanja kini sudah melakukan evaluasi. Pasalnya, tas belanja, berapa kali dipakaipun pada akhirnya kembali ke tempat sampah. Kondisi ini yang akhirnya membuat jumlah sampah plastik justru bertambah, bukannya berkurang.

Karena itu, salah satu langkah tercepat menangani masalah ini adalah dengan menggunakan plastik ramah lingkungan yang bisa cepat terurai. Setelah menggunakan plastik yang bisa terurai, langkah selanjutnya adalah mengubah prilaku masyarakat agar membuang sampah ke tempatnya sehingga sampah-sampah itu bermuara di TPA agar bisa diurai.

Ia memaparkan, ada tiga jenis plastik yang bisa terurai sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Yang pertama bioplastik, biodegradable, dan oxobiodegradle.

Tapi plastik jenis Bioplastik dan Biodigradable dari nabati harganya tiga sampai lima kali lebih mahal dari plastik pada umumnya. Sementara jenis oxobiodigradable harganya masih setara seperti plastik biasa. Kondisi ini tentunya berpengaruh secara ekonomi di Indonesia.

“Kita punya pendapatan negara/perkapita Indonesia cuma 3600 dolar/per orang per tahun , di eropa AS di atas 50 ribu. Masyarakat mereka sudah berpikir, kalau plastik dibakar semua tidak ada yang peduli tidak peduli terurai semua,” terangnya.

Untuk itu ia menyebut, salah satu solusi mendapatkan plastik yang dapat terurai sesuai SNI adalah plastik jenis Oxobiodigradable.

“Tas belanja biasa rata-rata 200 / pcs yang biasa yang terurai , kalau oxo harganya 200 tapi terurai, dengan jangka 2-5 tahun. Kalau nabati 3 sampai lima kali lipat (lebih cepat) terurai tapi tinggi (harga). Terurai tergantung mikroba ecoplast sehingga lebih cepat terurai. Nabati jagung, tenologi Eropa. Plastik nabati yang dari eropa (hati hati) tidak terurai di TPA. Baru terurai di Industri kompos yang hanya ada di Eropa. Sementara di Indonesia belum ada,” terangnya lagi. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Gunung Krakatau dalam Bingkai Sejarah Dunia

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: