Terdampak Tsunami, Bagaimana Nasib Sawah dan Ternak di Banten yang Tidak Diasuransi?

TrubusNews
Yandi | Followers 2
10 Jan 2019   20:00

Komentar
Terdampak Tsunami, Bagaimana Nasib Sawah dan Ternak di Banten yang Tidak Diasuransi?

Tsunami Selat Sunda menghancurkan lahan pertanian dan peternakan warga di Banten. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tsunami Selat Sunda yang terjadi akibat longsor bawah laut usai erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya meluluh lantakkan bangunan rumah dan hotel di pesisir Banten. Bencana itu juga menghancurkan areal pertanian dan peternakan warga. Yah, akibat kejadian itu, ratusan hektare lahan sawah warga di Banten hancur berantakan. Ribuan ternak warga juga jadi korban. 

Menurut catatan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, areal pertanian yang terdampak bencana tsunami Selat Sunda yang kemudian disusul banjir, merusak 398 hektare lahan pertanian di Kabupaten Serang. Sementara itu di Pandeglang, areal persawahan yang terdampak mencapai 298 hektare.

Lalu bagaimana nasib para petani dan peternak yang terdampak bencana ini?

Baca Lainnya : Bencana Banjir Banten Ancam 2.123 Hektare Sawah Petani Gagal Panen

Kepala Distanak Provinsi Banten, Agus Tauhid mengatakan, pihaknya akan segera menyalurkan cadangan benih ke daerah pertanian yang terdampak. Selain itu, untuk lahan pertanian yang diasuransikan, pihaknya juga akan membantu dalam proses klaim penggantiannya.

"Ada juga yang namanya asuransi usaha tani padi, uang premi nya Rp36 ribu permusim, klaimnya Rp4 sampai 6 juta per hektare," kata Agus Tauhid, saat ditemui Trubus.id di kantornya di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Kamis (10/01).

Ia menjelaskan, untuk petani dan peternak yang tidak mengikuti asuransi, langkah penanganannya akan dibahas terlebih dahulu antara Pemprov Banten bersama pemerintah pusat.

Baca Lainnya : Banjir di Serang  Rendam 57 Hektar Lahan Pertanian, Ternak Hanyut

"Kami akan laporkan ke Jakarta, kami juga akan usahakan bantuan dari provinsi, kami bicarakan dengan gubernur, nanti formulanya seperti apa," ujarnya.

Agus melanjutkan, menurut data yang ia terima, di Kabupaten Pandgelang, ada ratusan hewan ternak yang mati karena terjangan gelombang tsunami. Seperti di Kecamatan Sumur, domba yang mati sebanyak 6 ekor, kambing 85, domba 16, unggas 509, kerbau 4, 2 ribu ekor ayam. Total kerugiannya mencapai Rp 209 juta.

"Ini kebetulan tidak masuk asuransi usaha ternak sapi/kerbau (AUTS). Kalau yang masuk asuransi dapat klaimnya Rp 10juta per ekor, premi nya Rp 200 ribu per bulan," jelasnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: