Beginilah Nasib Anjing dan Kucing Liar di Jakarta Setelah Dirazia

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
10 Jan 2019   10:30

Komentar
Beginilah Nasib Anjing dan Kucing Liar di Jakarta Setelah Dirazia

Kucing, ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Jakarta mencatat sepanjang tahun 2018 pihaknya menerima 100 laporan terkait anjing dan kucing liar liar di DKI Jakarta.

Meski banyak komunitas yang peduli terhadap nasib anjing dan kucing liar, banyak masyarakat yang memusuhi hewan liar tersebut karena dianggap hama. Oleh karena itu, DKPKP berupaya mengendalikan populasi hewan liar tersebut.

"Masyarakat yang melapor. Laporannya ada anjing liar di lingkungan, banyak kucing liar di lingkungan, banyak kotoran di halaman, yang takut tergigit anjing, dan sebagainya," kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPKP Jakarta, Sri Hartati, baru-baru ini.

Lebih lanjut Sri mengatakan, selama ini hewan-hewan liar yang ditangkap oleh DKPKP dirawat di Pusat Pelayananan Kesehatan Hewan dan Peternakan di Ragunan, Jakarta Selatan.

Baca Lainnya: Fakta-fakta Soal Rencana Razia Anjing dan Kucing di Jakarta

Hewan-hewan tersebut, dikatakan Sri akan dipelihara, divaksinasi dan disterilisiasi. Namun, Sri mengatakan jumlah hewan di sana selalu berubah-ubah karena banyak shelter atau penampungan hewan liar yang dibentuk oleh masyarakat, yang mengadopsi hewan-hewan itu. Menurut Sri saat ini, DKPKP bekerja dengan sekitar enam shelter.

Sri menambahkan individu juga dapat mengadopsi hewan dari BKHI dengan membayar Rp 20.000 per ekor sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Benfica, mempertanyakan nasib hewan-hewan yang dirazia oleh pemerintah provinsi.

"Kita nggak tahu ya anjing-anjing yang dirazia dari jalanan terus ditampung di dinas terus ke depannya bagaimana? Kalau kita pernah mengamati itu, tapi kan nggak bisa kita ungkap," ujar Benfica menjelaskan.

Menurutnya, perlakuan di tempat penampungan hewan liar yang disediakan pemerintah provinsi, belum memperhatikan kesejahteraan hewan.

Lebih jauh ia menjelaskan, kelebihan populasi anjing dan kucing liar terjadi karena banyak faktor, salah satunya pemilik hewan yang enggan mensterilisasi binatangnya.

"Akhirnya satwanya itu main keluar sehingga akhirnya berkembang biak dan anak-anaknya itu ditelantarkan sehingga akhirnya membentuk populasi baru di jalanan," ujarnya lagi.

Baca Lainnya: Gubernur DKI Libatkan Komunitas untuk Merawat Anjing dan Kucing Liar 

Untuk mengatasi masalah kelebihan populasi anjing dan kucing liar dan mencegah penyebaran rabies, Benfica menyarankan pemerintah provinsi melakukan vaksinasi dan sterilisasi secara rutin, kalau bisa setiap minggu. Hal itu perlu dilakukan karena kucing, misalnya, berkembang biak sangat sering.

Benfica menyarankan masyarakat sebaiknya mengenakan kartu tanda pengenal pada binatang peliharaan mereka.

“Selain itu, untuk mencegah penyebaran rabies, Benfica mengatakan, warga juga dapat secara kolektif melaporkan keberadaan anjing dan kucing liar di wilayahnya,” pungkasnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: