Balai Arkeologi Papua Berhasil Temukan Situs Prasejarah Momorikotey

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
10 Jan 2019   08:00

Komentar
Balai Arkeologi Papua Berhasil Temukan Situs Prasejarah Momorikotey

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tim peneliti dari Balai Arkeologi Papua yang sedang melakukan penelitian di Pulau Kapotar, Distrik Kepulauan Moora, Kabupaten Nabire berhasil menemukan Situs Momorikotey.

Menurut peneliti Balai Arkeologi Papua Hari Suroto di Jayapura, situs tersebut merupakan bukti kehadiran manusia prasejarah pada jaman Austronesia di pesisir Nabire sekitar 3000 tahun yang lalu.

Dijelaskan Hari, Artefak yang menjadi bukti pengaruh budaya Austronesia di wilayah pesisir Nabire yaitu gerabah, batu tumbuk, alat batu obsidian, alat kerang conus dan gerabah lapita. Selain itu juga ditemukan gigi manusia prasejarah dengan karakter double-shoveling yang menunjukkan karakter gigi populasi Mongoloid dari Asia.

"Temuan alat serpih obsidian dan gerabah bermotif Lapita menunjukkan bahwa telah terjadi pelayaran dan perdagangan jarak jauh," katanya seperti dilansir dari Antaranews, Rabu (9/1).

Baca Lainnya : TBBO Sawahlunto Terus Berbenah Menuju Situs Warisan Budaya Dunia

Hari mengungkapkan, Budaya Lapita berkembang pada 3500 hingga 2500 tahun yang lalu. Alat serpih obsidian dan gerabah Lapita merupakan komoditas perdagangan, kemungkinan melalui serangkaian pertukaran dengan komoditas setempat.

Manusia penutur Austronesia yang menghuni Situs Momorikotey mengembangkan budaya bahari, hal ini diketahui dari pecahan gerabah hias motif jala dan motif tulang ikan serta sampah sisa makanan berupa cangkang moluska dan tulang ikan.

Sedangkan perahu merupakan alat transportasi yang efektif untuk mengangkut gerabah dalam jumlah banyak.

Baca Lainnya : Taman Nasional Chiribiquete Kolombia, Masuk Daftar Situs Warisan Dunia

"Sisa makanan berupa cangkang moluska dan tulang ikan menggambarkan bahwa kehidupan mereka mencari hasil laut untuk dikonsumsi," katanya.

Ada temuan berupa gigi dan rahang binatang marsupial (kuskus dan tikus tanah) yang membuktikan bahwa mereka juga berburu binatang yang ada di pulau. 

Selain itu, temuan taring babi mengindikasikan bahwa mereka juga mengkonsumsi babi. Babi merupakan hewan mamalia hanya terdapat di daratan Papua, sedangkan jenis mamalia yang terdapat di pulau hanya kuskus dan tikus tanah saja. 

Keberadaan gigi dan taring babi di Situs Momorikotey mengungkapkan bahwa binatang berasal dari luar pulau. Pulau Kapotar sendiri sangat kecil dan tidak memungkinkan babi hidup liar atau dipelihara di pulau ini. 

Hal tersebut membuktikan bahwa pada masa lalu telah terjadi tukar menukar komoditas dengan masyarakat daratan Papua.

Temuan batu tumbuk berbentuk lonjong berfungsi untuk menghaluskan dalam lumpang batu, selain itu batu tumbuk berukuran kecil berfungsi untuk menumbuk biji pinang yang diramu dengan kapur dan dalam ruas bambu kering atau tempurung kelapa. 

Batu tumbuk bulat digunakan untuk memecahkan cangkang kerang. Manusia penutur Austronesia di Pulau Kapotar membudidayakan keladi, pisang, sirih dan pinang. 

"Mereka tidak mengenal budaya menanam biji-bijian terutama padi, hal ini kemungkinan karena kondisi pulau kecil yang tidak memungkinkan untuk bercocok tanam padi," pungkas Hari. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: