Meski Kampanye Dihentikan, Imunisasi Campak-Rubella Tetap Dilanjutkan

TrubusNews
Astri Sofyanti
08 Jan 2019   16:30 WIB

Komentar
Meski Kampanye Dihentikan, Imunisasi Campak-Rubella Tetap Dilanjutkan

Kampanye imunisasi campak dan rubella dihentikan. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Anung Sugihantono, M.Kes mengungkapkan, kampanye campak dan rubella sudah dihentikan. Namun meski begitu, pelayanan imunisasi akan tetap dilanjutkan.

Keputusan tersebut berdasarkan rekomendasi sejumlah organisasi kedokteran seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI).

“Statement kampanye campak dan rubella atas saran IDAI, Komnas KIPI, kita hentikan. Tapi layanan imunisasi untuk campak dan rubella tetap dilanjutkan sebagai bagian dari pelayanan,” kata dr. Anung melalui keterangan resminya yang diterima Trubus.id di Jakarta, Selasa (8/1).

Baca Lainnya : Imunisasi MR Harus Terlaksana Hingga Tercapai 95 Persen

Diakui Anung, esensi dari rekomendasi tersebut adalah masuknya imunisasi campak-rubella ke kegiatan imunisasi rutin lengkap. Terkait belum tercapainya target imunisasi di luar Jawa, Anung menegaskan perlu menguatkan surveilans penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Hasil cakupan di Jawa tampak menunjukkan kasus campak dan rubella menurun jauh setelah mencapai 100 persen pada 2017.

“Tapi untuk meningkatkan cakupan yang di luar Jawa, surveilans PD3I harus ditingkatkan. Kami sekarang melakukan pemetaan risiko wilayah atau potensi wilayah yang perlu diwaspadai terjadinya PD3I. Variabelnya secara makro mencakup target imunisasi, kegiatan laporan surveilans, dan pelaporan surveilans pasif di RS,” tegas Anung.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, pelaporan pasif di RS bukan hanya soal cakupan, tapi soal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di rumah sakit. Yang perlu dicermati karena congenital rubella syndrome misalnya, perlu perhatian dari beberapa dokter spesialis, yakni spesialis mata, THT, dan spesialis jantung untuk memastikan diagnosis bahwa seorang anak terkena congenital rubella syndrome.

Baca Lainnya : Kampanye Tahap Kedua Masih Menemui Kendala, Imunisasi MR Diperpanjang Lagi

“Karena belum semua RS di tingkat kabupaten/kota mempunyai 3 spesialis ini, inilah yang jadi tantangan kami ke depan dalam mengamati atau meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan karena anak tidak diimunisasi,” ucap Anung menambahkan.

Untuk itu, dalam enam bulan ke depan, Kementerian Kesehatan mengharapkan akan ada data yang dapat diolah dari berbagai hal yang berkaitan dengan imunisasi, surveilans, dan risiko di lapangan saat dilakukan kampanye campak-rubella selama 2 tahun terkahir.

“Harapannya di akhir 2019 semua jenis cakupan imunisasi di atas 95 persen perkabupaten/kota di Indonesia,” tutup Anung. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: