Jokowi Minta Mendikbud Edukasi Bencana Masuk Sistem Pendidikan

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
08 Jan 2019   11:00

Komentar
Jokowi Minta Mendikbud Edukasi Bencana Masuk Sistem Pendidikan

Edukasi bencana yang dilakukan tim Emergency Response Bina Swadaya (Foto : Trubus.id / Thomas Aquinus Krisnaldi)

Trubus.id -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta edukasi kebencanaan diberikan dalam proses belajar mengajar.

“Maksudnya akan dilakukan edukasi kebencanaan tapi bukan masuk ke dalam mata pelajaran, tapi akan diberikan dalam proses belajar mengajar di sekolah,” kata Muhadjir di Jakarta, Selasa (8/1).

Sebelumnya, Jokowi meminta seluruh jajarannya memberikan edukasi kebencanaan secara konsisten dan dilakukan sejak dini.

Jokowi menyatakan, edukasi kebencanaan didorong masuk dalam materi yang diajarkan pada sistem pendidikan.

Baca Lainnya : Kemenkes Lakukan Edukasi Kesehatan pada Korban Tsunami Selat Sunda

"Saya sudah minta agar edukasi kebencanaan ini betul-betul dikerjakan secara baik dan konsisten dilakukan sejak dini, masuk dalam muatan yang diajarkan dalam sistem pendidikan kita. Sehingga betul-betul kita siap dalam menghadapi," terang Jokowi di Jakarta.

Jokowi mengatakan, pemerintah bersama DPR telah sepakat mengalokasikan lebih banyak lagi anggaran untuk melakukan edukasi dan mitigasi bencana alam pada APBN 2019.

"Saya juga ingin mengingatkan untuk kita terus memperkuat daya tahan kita, kesigapan kita dalam menghadapi bencana," terang Jokowi menambahkan.

Sementara itu, Muhadjir menegaskan bahwa itu pendidikan bencana tidak akan menjadi mata pelajaran.

“Ini yang penting, karena kalau nanti tidak saya kunci dulu nanti ribut. Jadi tidak akan menjadi mata pelajaran tetapi menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sekolah,” ujarnya.

Baca Lainnya : SD di Raja Ampat Edukasi Siswanya Soal Perubahan Iklim

Muhadjir menyebutkan terdapat tiga masalah kebencanaan yang wajib ditanamkan kepada siswa di sekolah. Tiga hal tersebut antara lain, pengetahuan dan informasi, masalah yang bersifat teknis, serta simulasi bencana.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, masalah pengetahuan bencana dapat disisipkan ke beberapa mata pelajaran, seperti; geografi, biologi, dan program penguatan pendidikan. Sementara untuk masalah teknis akan disampaikan oleh ahlinya yaitu Badan Nasional Penanggulagan Bencana (BNPB).

"Tidak mungkin guru, kalau harus guru nanti harus melatih guru lagi, malah repot," ujar dia.

Untuk masalah simulasi, lanjut Muhadjir dapat dimasukkan ke ekstakurikuler, seperti; Pramuka maupun Palang Merah Indonesia (PMI).

Baca Lainnya : Bina Swadaya Dan FPRB Berikan Bantuan Kepada 140 anak di Desa Srimulyo

Menurutnya, simulasi bencana dapat lebih efektif bila langsung mempraktikkan dalam pelajaran tambahan tersebut.

"Jadi nanti di situ lebih efektif jadi di dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Jadi akan kita sebar, tidak jadi mata pelajaran," sebutnya lagi.

Dirinya menargetkan pada tahun ajaran baru pelaksanaan tiga bentuk edukasi tersebut dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah.

“Sampai saat ini telah terdapat empat modul yang dapat digunakan oleh siswa,” pungkasnya. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: