Ahli Geofisika ITB: PLTA Batang Toru Berada di Zona Merah Patahan Berbahaya

TrubusNews
Reza Perdana | Followers 2
07 Jan 2019   19:30

Komentar
Ahli Geofisika ITB: PLTA Batang Toru Berada di Zona Merah Patahan Berbahaya

PLTA Batang Toru berada di zona merah patahan berbahaya jika gempa terjadi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sidang terkait gugatan izin lingkungan Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru kembali digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Medan.  Dalam sidang kali ini dihadirkan Ahli Geofisika yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Teuku Abdullah Sanny.

Dalam keterangannya, Teuku Abdullah Sanny mengatakan, PLTA Batang Toru yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, berada dalam zona merah patahan yang sangat berbahaya. 

"Nah, jika terjadi gempa banyak potensi bahaya yang akan terjadi," katanya, Senin (7/1).

Ahli Geofisika dari ITB, Teuku Abdullah Sanny saat memberikan keterangannya dipersidangan, Senin (7/1).

ia menjelaskan, ada hal menarik soal fakta patahan di kawasan Batang Toru. Bendungan yang menjadi sumber energi memang tidak berada tepat di patahan. Namun, lanjutnya, vibrasi atau getaran dari gempa di patahan bisa memberikan pengaruh signifikan. Sebab, di dekat bendungan ada patahan yang jaraknya di peta, sekitat lima kilometer dari bendungan. 

"Pengaruh patahan atau vibrasi terhadap bendungan, itu yang perlu diperhatikan dan perlu dilakukan penelitian secara detail," jelasnya.

Menurut Guru Besar dari ITB tersebut, perlu dilakukannya penelitian secara detail dari aspek geofisika karena sangat dibutuhkan. Apalagi zona merah dikatakan sebagai zona berbahaya. 

Menurutnya, belum ada penelitian yang menunjukkan jika lokasi pembangunan bendungan PLTA Batang Toru berada di segmen yang paling berbahaya. 

"Saya tidak berani menjamin jika proyek itu diteruskan tanpa penelitian dari aspek geofisika," ungkapnya.

Sementara itu, disinggung mengenai dugaan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menggunakan bahan peledak dalam jumlah besar untuk membuat terowongan. Teuku Abdullah Sanny menegaskan, penggunaan bahan peledak juga memberikan pengaruh.

"Dan berpotensi membuat fracture atau patahan baru. Jelas berpengaruh. Bagaimana pengaruhnya, mungkin mereka sudah menghitung atau bagaimana saya belum tahu," terangnya. 

Teuku Abdullah Sanny menyebut, penggunaan bahan peledak bisa menjadi pemicu ampifikasi batuan yang ada di sana. Penelitian harus meyakinkan itu diteruskan atau tidak atau dipindahkan.

"Saya juga belum bisa mengatakan sekarang. Tapi yang jelas sudah wanti-wanti. Para ahli di seluruh dunia sama kesepakatannya, itu berada di zona merah," ungkapnya.

Untuk diketahui, sidang gugatan diajukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terhadap Gubernur Sumatera Utara di PTUN Medan dengan Nomor Register 110/G/G/LH/2018/PTUN-MDN. Sidang telah memasuki agenda penyampaian keterangan saksi-saksi. Pada sidang yang digelar kali ini menghadirkan Guru Besar ITB. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: