Teknologi NMR, Efektif Turunkan Gas Metana yang Keluar dari Sapi

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
05 Jan 2019   09:00

Komentar
Teknologi NMR, Efektif Turunkan Gas Metana yang Keluar dari Sapi

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dalam jurnal berjudul 'Beef Consumption Reduction and Climate Change Mitigation', yang ditulis Elham Darbandi dan Sayed Saghaian dari University of Kentucky, Amerika Serikat, para peneliti percaya, 65 persen emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor peternakan sapi.

Disebutkan, gas metana yang dihasilkan dari sapi itulah yang ikut meningkatkan efek rumah kaca. Ternak berkaki empat atau istilahnya ruminansia (sapi, kambing, domba) menghasilkan gas metana yang keluar dari sendawa, kentut, dan kotoran hewan ternak. Sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul Animal Agriculture’s Impact on Climate Change, gas metana menyumbang 16 persen dari total efek pemanasan global. Potensi pemanasan global mencapai 28 hingga 36 kali lipat, yang berujung menghasilkan karbon dioksida.

Jika gas metana tidak ditekan dari sapi, maka pemanasan global yang ada pada peternakan sapi bisa meningkat. Apalagi di Indonesia, tingkat konsumsi daging sapi digencarkan terus menerus. Hal ini bertujuan demi ketercukupan nasional terhadap kebutuhan protein hewani dari daging sapi. Kementerian Pertanian mencatat, produksi daging sapi nasional pada tahun 2018 sebesar 403.668 ton.  

Namun peneliti ternak, Lies Mira Yusiaiti menjelaskan, ada inovasi kreatif yang bisa dilakukan peternak untuk mengurangi gas metana pada hewan ruminansia. Penggunaan teknologi Natural Methane Reducing (NMR) dari dedauan yang mengandung kandungan tannin contohnya.

Tannin dapat menekan gas metana yang keluar dari sapi. Dedaunan yang digunakan meliputi daun jati (Tectona grandis), kaliandra (Calliandra calothyrsus), dan mahoni (Swietenia mahagoni).

“Tannin dalam suatu tanaman atau dedauan memiliki jenis berbeda dan tingkat kandungannya pun berbeda. Kombinasi dari berbagai jenis daun punya potensi lebih tinggi dalam menurunkan metan dibandingkan hanya memilih salah satu. Hal ini didasari jenis tannin yang punya mekanisme ikatan yang berbeda beda, tergantung dari jenis daun,” kata Lies seperti dikutip dari Health Liputan6.com.

Dedaunan banyak ditemukan di sekitar lingkungan peternak, terutama di daerah pedesaan. Di pedesaan kekayaan biodiversity yang tinggi. Teknologi Natural Methane Reducing diterapkan Lies dan tim melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Banyusoco, Playen, Gunung Kidul dan Desa Bercak, Berbah, Sleman. Peternak sebelumnya sudah memberikan dedaunan, kearifan lokal yang ada di sekitarnya. Namun, peternak belum memahami manfaat dari daun yang diberikan.

“Peternakan sapi, misalnya, di daerah urban (dekat perkotaan) yang sering memiliki kendala dalam mendapatkan daun. Sehingga dikembangkan tanaman yang mudah tubuh dan memiliki kandungan tannin yang tinggi.  Kami mencoba memberikan bibit tanaman yang potensial menghasilkan tannin, mengidentifikasi tanaman yang sudah ada, dan memiliki kandungan tannin tinggi,” papar Lies, peneliti ternak dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: