Kondisi Gunung Anak Krakatau Ibarat Minyak dan Korek Api, Ini Penjelasan Ahli Geologi

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
03 Jan 2019   15:30

Komentar
Kondisi Gunung Anak Krakatau Ibarat Minyak dan Korek Api, Ini Penjelasan Ahli Geologi

Gunung Anak Krakatau (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau setelah tsunami Selat Sunda masih menjadi sorotan pemerintah dan lembaga terkait. Pengamatan citra satelit menunjukkan, hanya sebagian kecil tubuh Gunung Anak Krakatau yang longsor ke laut, namun telah menimbulkan tsunami dahsyat pada 22 Desember 2018.

Dengan volume material longsoran yang kecil saja bisa menimbulkan tsunami dahsyat mematikan.

Untuk itu, pakar geologi meminta semua pihak untuk tetap waspada. Sebab, Gunung Anak Krakatau berpotensi longsor lagi serta munculnya "minyak dan korek api’ dari gunung tersebut.

Pakar geologi Rovicky Putrohari yang juga mantan ketua umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengatakan, kawah Gunung Anak Krakatau saat ini tenggelam di bawah muka air laut. Tapi menurutnya, kondisi itu tak meredam atau mematikan aktivitas vulkanik anak dari Gunung Krakatau tersebut.

Baca Lainnya: Waspada, Dua Retakan Baru Terdeteksi pada Gunung Anak Krakatau

"Nanti ada rekahan atau tidak, tapi kalau volume potensinya masih ada dan pemicu aktivitas vulkanisme juga masih ada. Ya tentunya harus waspada," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/1).

Pihaknya menganalogikan, kondisi kewaspadaan Gunung Anak Krakatau dengan munculnya ‘minyak dan korek api’.

Rovicky menggambarkan, minyak mewakili potensi material gunung yang bisa longsor, sedangkan korek api yang dimaksud adalah Gunung Api Anak Krakatau yang bisa memicu longsor tubuhnya sendiri.

"Kalau minyak dan korek api bertemu bisa kebakaran," terangnya beranalogi.

Baca Lainnya: Status Siaga, Kapal Kecil Dilarang Melintasi Kawasan Gunung Anak Krakatau

Lebih lanjut Rovicky menjelaskan, dilihat dari permukaan longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau terlihat relatif kecil.

“Tapi, jika materi yang ada di permukaan gunung tersebut proporsional dengan apa yang ada di bawah muka air, tentunya akan berbeda bila punya peta dasar laut (bathymetri),” ujarnya menerangkan.

Hal ini karena menurutnya, peta morfologi bawah laut itu memungkinkan dipakai untuk memperkirakan seberapa besar volume longsoran dan volume yang mungkin bakal longsor lagi bila dipicu aktivitas gunung api.

"Peta bathymetri ini masih menjadi salah satu puzzle, untuk mengetahui dengan lebih pasti, apa yang terjadi saat tsunami 22 Desember 2018," pungkasnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: