Usai Gunung Anak Krakatau Erupsi, Terjadi Pendangkalan Dasar Laut

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
03 Jan 2019   10:15

Komentar
Usai Gunung Anak Krakatau Erupsi, Terjadi Pendangkalan Dasar Laut

Gunung anak krakatau (Foto : ANTARA FOTO)

Trubus.id -- Usai terjadinya longsoran yang memicu tsunami ke pesisir Banten hingga Lampung, pada 22 Desember 2018 lalu, TNI Angkatan Laut menemukan adanya pendangkalan dasar laut dan perubahan bentuk morfologi Gunung Anak Krakatau.

Temuan ini pertama kali diketahui setelah Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) melakukan survei hidro-oseanografi dan investigasi di sekitar longsoran Gunung Anak Krakatau dengan KRI Rigel-933.

Kepala Pushidrosal, Laksda Harjo Susmoro mengungkapkan, berdasarkan data hasil survei hidro-oseanografi Pushidrosal 2016 dan data Multi Beam Echosounder (MBES) hasil survei Tim Pushidrosal, pada 29-30 Desember 2018, dilaporkan perairan di selatan Gunung Anak Krakatau terjadi perubahan kontur kedalaman 20-40 meter lebih dangkal.

Ia menafsirkan kondisi ini dikarenakan adanya tumpahan magma dan material longsoran Gunung Anak Krakatau yang langsung jatuh ke laut.

Baca Lainnya: Gunung Krakatau dalam Bingkai Sejarah Dunia

“Selain itu dengan pengamatan visual radar dan analisis dari citra ditemukan perubahan morfologi bentuk Anak Gunung Krakatau pada sisi sebelah barat seluas 401.000 m2 atau lebih kurang sepertiga bagian lereng sudah hilang dan menjadi cekungan kawah menyerupai teluk,” kata Harjo melalui keterangan resminya, Kamis (3/1).

Menurtnya, pada bidang cekungan kawah, masih dijumpai semburan magma Gunung Anak Krakatau yang berasal dari bawah air laut.

Survei investigasi pascatsunami di perairan Selat Sunda oleh Pushidrosal merupakan tugas yang sesuai dengan Keppres Nomor 62 Tahun 2016.

Sebagai Kotama Pembinaan TNI AL dan anggota International Hidrographyc Organization (IHO), Pushidrosal memiliki tugas untuk melaksanakan survei investigasi saat terjadi bencana alam maupun kecelakaan di laut untuk menjamin keselamatan navigasi dan keamanan pelayaran bagi kapal-kapal yang sedang berlayar.

Baca Lainnya: Gunung Anak Krakatau Masih Alami 60 Kegempaan dan Letusan

“Selain itu data batimetri, oseanografi, data layer dasar laut yang diperoleh dari peralatan sub bottom profiling (SBP) diharapkan dapat diteliti dan dianalisis lebih detail lagi oleh peneliti, pakar dan akedemisi sehingga mampu memberikan informasi kepada pemerintah serta masyarakat fenomena yang terjadi pasca erupsi dan tsunami di perairan Selat Sunda,” ucap Harjo menambahkan.

Untuk itu, pihaknya berharap dari data hasil survei tersebut akan dapat dibuat penelitian ilmiah dan untuk pembuatan peta khusus tematik mitigasi bencana di pesisir Banten dan Lampung.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

DBD Mulai Hantui Warga Jatim

Binsar Marulitua   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: