Kurangi Risiko Bencana Melalui Teknologi dan Pendidikan Siaga Bencana

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
02 Jan 2019   13:00

Komentar
Kurangi Risiko Bencana Melalui Teknologi dan Pendidikan Siaga Bencana

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara menyebutkan, perlu pendidikan siaga bencana yang sesuai dengan karakteristik lokal dan diperbarui sesuai dengan kejadian-kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia.

“Masyarakat lokal sebetulnya punya potensi pengetahuan karena mereka punya kedekatan dengan alam. Cerita rakyat mengenai gempa bumi dan tsunami sebetulnya sudah ada, seperti dongeng Smong di Simeulue, Aceh,” ujarnya saat ditemui di Kantor LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (1/2).

Lebih lanjut pihaknya mencontohkan, pada tahun 1907, tsunami yang oleh warga setempat disebut smong pernah menghantam Simeulue. Fenomena mematikan ini begitu membekas di ingatan masyarakat setempat.

Baca Lainnya: LIPI Lakukan Penelitian Pengurangan Risiko Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Sebagai pengingat tsunami, ada syair yang bercerita tentang kejadian ini dan terus dituturkan dari generasi ke generasi. Isinya, jika ada gempa segera lari ke atas bukit tak perlu lihat laut surut.

“Saat terjadi tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, meski Simeulue yang paling awal kena, tercatat hanya tujuh korban meninggal,” sambung Herry.

Pihaknya menyebutkan, pengetahuan lokal ini perbarui sesuai dengan kejadian-kejadian bencana terbaru dan latihan secara terus menerus sehingga akan terus dengan mudah diingat.

Dari aspek teknologi, Bambang Widiyatmoko, peneliti bidang instrumentasi kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI mengungkapkan alternatif sistem peringatan dini tsunami selain buoy dengan menggunakan Laser Tsunami Sensor.

“Prinsip kerjanya adalah mengirim cahaya dari darat itu ditembakkan ke dasar laut, lalu ada sensor di dalamnya yang akan kembali menembakkan cahaya tersebut ke pos pantau,” jelasnya.

Baca Lainnya: BNPB Prediksi Tahun 2019 Terjadi 2.500 Bencana di Indonesia

Sensor ini ditempatkan dalam kabel fiber optik yang berada di dasar laut. Kabel fiber optik itu akan terhubung dengan pos pemantau yang akan memancarkan cahaya laser dari ujung kabel ke ujung kabel lainnya melalui sensor deteksi.

“Ketika terjadi pergerakan air laut yang tidak biasa atau ada tekanan yang berubah, sensor deteksi akan membelokkan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya tsunami ke pos pemantau,” jelasnya.

Sementara terkait bencana longsor, LIPI telah mengembangkan sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel yang bernama LIPI Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND).

“Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal, baik pada lereng alami, potongan maupun timbunan,” terang peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari.

Lebih lanjut dikatakan Adrin, LIPI WISELAND sendiri memiliki sejumlah keunggulan yakni, dapat menjangkau daerah pemantauan yang luas berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi, serta memiliki catu daya mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai lithium.

“Tujuan dari pengembangan LIPI WISELAND adalah untuk menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan handal dalam memantau dan memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas,” tandasnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: