Dentuman Misterius di Cianjur Menghilang Sebelum Terdeteksi Sumbernya

TrubusNews
Binsar Marulitua
31 Des 2018   09:33 WIB

Komentar
Dentuman Misterius di Cianjur Menghilang Sebelum Terdeteksi Sumbernya

badai, ilustrasi (Foto : Pixabay)

Trubus.id -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Jawa Barat, memastikan suara dentuman misterius di wilayah selatan sudah tidak terdengar.  Meskipun belum ada kepastian sumber suara tersebut.

"Diperkirakan dentuman merupakan fenomena alam yang tidak ada kaitannya dengan terjadinya sejumlah bencana alam termasuk dengan Gunung Anak Krakatau yang aktif," kata Sekretaris BPBD Cianjur Sugeng Supriyatno pada Minggu (30/12).

Dia menjelaskan cukup sulit menemukan sumber suara dentuman yang sempat menghebohkan selama beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung pun tidak mendeteksi gejala alam seperti gempa yang cukup banyak dicurigai menjadi sumber suara.

Baca Lainnya : Gunung Krakatau dalam Bingkai Sejarah Dunia

Meskipun belum dapat dipastikan sumber suara tersebut, pihaknya memastikan dentuman yang terjadi sejak 23 Desember itu tidak berpotensi bencana dan tidak terkait dengan tsunami yang akan melanda sejumlah wilayah di selatan Jabar.

"Ini tidak ada kaitan dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dengan apa yang terjadi di Cianjur selatan. Meskipun potensi tsunami di Cianjur tetap ada karena ada sesar Lembang dan Cimandiri,” kata Sugeng.

Dia menambahkan kondisi perairan di wilayah selatan masih aman dari potensi tersebut, tetapi warga harus tetap waspada dengan fenomena gelombang tinggi, banjir rob, dan terjadinya angin barat pada Desember hingga Februari.

"Warga harus terus peka terhadap kondisi alam selama cuaca tidak bersahabat. Potensi bencana selalu ada di manapun, kami selalu siap, siaga dan waspada," ujarnya.

Baca Lainnya : Fenomena Aneh, Setiap Tahun Permukaan Tanah di Desa Ini Naik Hingga 2 Cm

Seperti diberitakan sebelumnya, hingga saat ini warga meyakini hal tersebut sebagai fenomena alam karena faktor cuaca. Sebagai penduduk asli yang sudah tinggal turun-temurun, fenomena tersebut sering terjadi ketika kondisi cuaca buruk.

Warga menduga dentuman keras tersebut berasal dari petir yang terjadi selama musim hujan di tengah samudera, terutama petir di tengah laut yang membuat suara menjadi sangat menggelegar.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Pemerintah Miliki 20 Alat PCR Covid-19

Peristiwa   08 April 2020 - 14:34 WIB
Bagikan:          

Kabupaten Siak Panen Raya Padi Gogo Seluas 12 Hektare

Peristiwa   08 April 2020 - 12:55 WIB
Bagikan: