Kemenkes Lakukan Edukasi Kesehatan pada Korban Tsunami Selat Sunda

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
28 Des 2018   10:15

Komentar
Kemenkes Lakukan Edukasi Kesehatan pada Korban Tsunami Selat Sunda

Menkes memberikan edukasi kepada korban tsunami selat sunda (Foto : Dok. Kementerian Kesehata)

Trubus.id -- Ratusan nyawa melayang akibat tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) lalu. Sementara ribuan warga lain mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Sampai hari ke-enam pascatsunami, banyakwarga yang tinggal di sekitar pesisir masih berada di tenda-tenda pengungsian.

Selain bantuan logistik, pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang terdampak tsunami Selat Sunda.

Hasil Rapid Health Assessment (RHA) bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bencana tsunami Selat Sunda menunjukkan sejumlah penyakit berpotensi KLB. Untuk itu, Kemenkes melalui Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat melakukan edukasi kesehatan kepada korban tsunami.

Baca Lainnya: 18 Ekor Penyu Diselamatkan Pasca Tsunami Selat Sunda

Edukasi penting dan perlu dilakukan agar para korban bisa mencegah dan menghindari penyakit yang bersumber dari lingkungan, seperti diare. Penyakit yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) saat terjadinya bencana yakni, diare, penyakit serupa influenza (ILI), dan suspek demam tifoid.

Saat ini tim promosi kesehatan tengah mempersiapkan segalanya mulai dari tim dan logistik yang akan dibawa, rencananya besok mereka akan bergerak ke lokasi terdampak di Pandeglang. Tim promosi kesehatan akan bergerak di titik-titik pengungsian, dimulai dari pengungsian terbesar di Kecamatan Angsana, Pandeglang.

Baca Lainnya: Usai Tsunami Terjang Selat Sunda, Nelayan di Lampung Takut Melaut

Rencananya edukasi kesehatan akan dilakukan di 11 titik pengungsian, yakni Cimanggu, Cigadung, Sumur, Caringin, Jiput, Cigeulis, Munjul, Carita (Desa Gombong), Labuan, Cigorondong, termasuk Angsana.

Edukasi kesehatan ditujukan kepada para korban tsunami, khusunya ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, orang dewasa, dan Lansia. Nantinya mereka akan diberikan pemahaman tidak hanya tentang diare, ILI, dan suspek demam tifoid, tapi pemahaman mendasar tentang bagaimana berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengungkapkan, kesadaran akan perilaku hidup sehat juga harus fokus di lakukan pada situasi pascatsunami.

“Kapan pun dan dimanapun dalam situasi apapun, PHBS harus tetap disadari dan dilakukan. Tsunami memang mengubah kondisi lingkungan, misalnya sanitasi menjadi rusak, tapi PHBS harus tetap diusahakan,” demikiam dikatakan Nila, melalui keterangan resminya di Jakarta, Kamis (27/12).

Pada pelaksanaannya, edukasi kesehatan akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama petugas kesehatan setempat, relawan, dan pihak lain yang fokus pada upaya pencegahan masalah kesehatan pasca tsunami. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: