‘Sea Shepherd’ Berencana Kembali Tempuh Jalur Kekerasan pada Para Pemburu Paus Jepang

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
27 Des 2018   19:00

Komentar
‘Sea Shepherd’  Berencana Kembali Tempuh Jalur Kekerasan pada Para Pemburu Paus Jepang

Kapal Sea Shepherd menabrak kapal penangkap paus. (Foto : Doc/ Sea Shepherd)

Trubus.id -- Organisasi pelestarian binatang laut ‘Sea Shepherd’ kembali mengibarkan bendera perang menyikapi rencana Jepang yang segera melanjutkan perburuan terhadap mamalia paus. Organisasi ini kerap menabrakan kapal sebagai strategi menghadang kapal penangkap paus. 

"Tetapi dengan dengan pengumuman terbaru Jepang, penangkapan ikan paus sebagai industri ilegal akan kami tentang kembali (Jepang) begitupun hal yang sama dengan Norwegia dan Islandia," jelas Kapten Sea Sheperd, Paul Watson daam sebuah pernyataan resmi. 

Sebelumnya, Jepang telah melapor kepada Organisasi Polisi Kriminal Internasional atas tindakan Paul Watson beserta crewnya yang menyebabkan sejumlah kerusakan pada kapal pemburu Nishin Maru di Samudra Antartika. Selain kerusakan, sejumlah pekerja juga menderita luka-luka akibat konfrontasi langsung yang sering  berlangsung di laut bebas. 

Baca Lainnya : Jepang Akan Kembali Berburu Paus untuk Tujuan Komersial

Atas tindakan tersebut, Polisi kriminal Internasional pun menyatakan pentolan aktivis tersebut sebagai daftar buruan dan paling dicari. 

Hingga kini, Terhitung mulai tahun 2002,  kelompok aktivis yang berbasis di Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyelamatkan lebih dari 6.000 paus dari perburuan sepanjang pejelajahan. 

"Kami akan sangat senang bahwa kami terus menentang negara-negara pemburu paus yang masih tersisa. Kami tetap bercita-cita menjadikan Altantik Sebagai Suaka bagi para paus-paus," tambah Paul Watson. 

Sementara itu Jepang berdalih, pelanjutan berburu raksasa laut tersebut semata mata untuk tujuan penelitian dan sains yang sudah dimulai sejak 1980. Di masa lalu, Jepang berusaha mendapatkan izin berburu secara komersial hanya untuk paus yang memiliki jumlah yang lebih besar di alam liar, seperti paus minke (Balaenoptera acutorostrata), yang terdaftar sebagai hewan "paling tidak diperhatikan" oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). 

Baca Lainnya : Kejam, Islandia Bunuh Lebih dari 200 Paus Sirip untuk Ekspor

Negari Matahari terbit tersebut juga sudah mengajukan pengunduran diri dari International Whaling Commision (IWC) atau Komisi Perpausan Internasional. Perburuan paus pun akan segera dimulai pada Juli 2019 mendatang. 

"Perburuan paus akan diberlakukan kembali Juli 2019 mendatang, namun hanya terbatas di wilayah teritorial laut dan zona ekonomi ekslusif Jepang. Kami tidak akan melakukan perburuan di perairan Antartika atau di belahan bumi bagian selatan," ujar Yoshihide Suga, juru bicara pemerintah Jepang.

Pemerintah Jepang telah berupaya meyakinkan IWC untuk memperbolehkan perburuan paus secara komersial, namun usul ini ditolak IWC September lalu. Konsekuensi dari penolakan itu, Tokyo akan keluar dari keanggotaan IWC. Padahal Jepang adalah kontibutor finansial terbesar dalam IWC.

Kini IWC pun harus mencari mencari penggantinya dan Jepang kini bergabung dengan Islandia dan Norwegia, yang sudah terlebih dulu menolak moratorium perburuan paus yang ditetapkan IWC.

Moratorium perburuan paus adalah bahasan yang sangat alot di Jepang jika dibanding kebijakan politik lainnya. Mayoritas kaum konservatif di pemerintahan, termasuk Perdana Menteri Shinzo Abe mendukung perburuan paus dengan alasan perburuan dan konsumsi daging paus adalah tradisi penting di Jepang.

Baca Lainnya : Miris, di Pulau Ini Paus Pilot Selalu Dibunuh

"Dengan penarikan diri dari IWC jepang akan ‘‘mewariskan kultur berburu paus ke generasi selanjutnya‘‘ jelas Suga.

Setelah perang dunia kedua, Jepang menghadapi kondisi sulit dalam pemulihan negara, di saat inilah konsumsi daging paus meningkat karena kaya kandungan protein. Walau pada tahun 1950, konsumsi ikan paus sempat mencapai puncaknya, kini konsumsi daging Paus tergolong rendah.

Berdasar data harian Asahi, konsumsi daging ikan paus tercatat 0.1 persen dibanding konsumsi daging lainnya. Rata-rata setiap orang di Jepang hanya mengkonsumsi sekitar 35 gram daging paus pertahunnya. Daging paus juga lebih diminati kaum lanjut usia dibanding generasi muda. [RN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: