Gunung Krakatau dalam Bingkai Sejarah Dunia

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
27 Des 2018   18:00

Komentar
Gunung Krakatau dalam Bingkai Sejarah Dunia

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Namanya Gunung Anak Krakatau.  Sisa Kaldera Kratakau Purba di Selat Sunda ini pernah menghantarkan amarah awan panas dan tsunami hingga menewaskan sekitar 36.000 jiwa pada tahun 1883 silam. Bahkan, dampaknya membuat perubahan iklim global, yakni perubahan suhu bumi turun hingga 1,2 derajat Celsius. 

Dampak kerusakan akibat erupsi Gunung Krakatau tahun 1883. (foto: Tropen Museum)

Lawrance Blair dan Lorne Blair, penulis buku Ring of Fire asal Inggris telah menjelajahi dan memfilmkan pulau-pulau panas dan lembab di kepulauan vulkanik Indonesia selama bertahun-tahun. Mereka mencatat, setelah letusan Gunung Krakatau, suhu rata-rata musim panas bumi di belahan utara turun hingga 1,2°C. Cuaca pun kacau hingga bertahun-tahun. Sementara itu, suhu tak kembali normal hingga 1888. Curah hujan di California Selatan dan Los Angeles pun meningkat.

Itu karena letusan Gunung Krakatau menyumbangkan gas sulfur dioksida (SO2) yang luar biasa tinggi ke lapisan stratosfer. Kemudian senyawa ini disebarkan oleh angin ke seluruh planet dan meningkatkan asam sulfat (H2SO4). Bahkan, Letusan Gunung Krakatau pada 1883 membuat langit di seluruh dunia menjadi gelap selama bertahun-tahun, akibat abu yang bertebaran di seluruh dunia.

Letusan Krakatau terdengar ke timur sampai Australia Tengah, 3.300 kilometer dari titik ledakan, dan ke barat terdengar sampai Pulau Rodriguez, kepulauan di Samudera Hindia, 4.500 kilometer jauhnya dari Selat Sunda. Konon, inilah suara paling keras yang pernah terjadi di dunia sampai saat ini. Suaranya dinilai setara dengan 21.548 kali letusan bom atom.

Letusan Gunung Krakatau ini tercatat dalam The Guinness Book of Records sebagai "letusan terhebat yang terekam dalam sejarah (the most powerful recorded explosion in history)".

Kejadian ini pun membuat fenomena matahari terbenam yang terlihat spektakuler di seluruh dunia selama berbulan-bulan. Hal tersebut diabadikan oleh seniman Inggris, William Ashcroft. Ia membuat ribuan sketsa warna matahari terbenam merah di belahan dunia akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun-tahun berikutnya.

Abu yang membuat warna matahari jadi seakan tambah hidup ini pun sempat membuat pemadam kebakaran di New York, Poughkeepsie, dan New Haven terkecoh untuk memadamkan api yang tampak. Letusan ini juga menghasilkan Cincin Uskup mengelilingi matahari pada siang hari. Selain itu, juga mengasilkan warna ungu terang saat senja.

Dilansir dari The Age, pada 2004, seorang astronom menyampaikan gagasan bahwa langit merah yang diperlihatkan dalam lukisan Edvard Munch yang terkenal pada tahun 1893 bernama The Scream yang merupakan penggambaran akurat langit di atas Norwegia setelah letusan Gunung Krakatau.

Sejarah Krakatau Purba 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: