2019, DLH DKI Larang Penggunaan Plastik di 153 Pasar Tradisional

TrubusNews
Thomas Aquinus
20 Des 2018   13:00 WIB

Komentar
2019, DLH DKI Larang Penggunaan Plastik di 153 Pasar Tradisional

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Merespon bahayanya sampah plastik yang sulit terurai dan membuat biota laut mati, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini tengah menyusun peraturan gubernur tentang penggunaan kantong plastik atau kresek. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji, bahwa penyusunan pergub ini sebagai upaya mengurangi konsumsi plastik. Masyarakat juga diminta untuk mengganti dengan produk yang mudah terurai atau bisa digunakan berulang-ulang. Salah satunya yaitu melatih masyarakat berbelanja dengan membawa tas sendiri.

"Kami melatih masyarakat untuk membawa kantong sendiri saja deh. Jangan dipersulit, orang sebenernya gampang kok di pasar tradisional juga kami anjurkan untuk tak pakai kresek," katanya, Kamis (20/12).

Baca Lainnya : Kemenkeu Dukung Tarif Cukai Plastik

Menurutnya, kebijakan ini akan diterapkan pada 2019. Pihaknya akan melarang pedagang di 153 pasar tradisional dan ritel atau swalayan menyediakan kantong plastik alias kresek.

Sementara itu ditegaskan dalam Peraturan Daerah nomor 3/2013 sudah ada beberapa kebijakan untuk penggunaan kantong plastik. Seperti kewajiban pelaku usaha tidak menggratiskan kantong yang tidak ramah lingkungan, menerapkan prosedur sosialisasi pemakaian kantong belanja ramah lingkungan, serta menerapkan prosedur sosialisasi dampak negatif lingkungan penggunaan dampak penggunaan kresek.

"Nanti selama empat bulan ini, kami turun sudah menyediakan FGD ke ritel-ritel, pasar tradisional, hotel restoran kafe, komunitas," kata Isnawa.

Baca Lainnya : Dinilai Memberatkan, Pelaku Industri Tolak Rencana Penerapan Tarif Cukai Plastik

"Kalau mereka bilang mendadak, nggak dikasih tahu itu bohong. Maaf kami sudah sosialisasi dan sudah masif. Kalau sudah sah itu pun ada masa enam bulan untuk sosialisasi ke masyarakat dan ritel," lanjutnya.

Isnawa mengungkapkan, kelebihan lain dari pelarangan ini adalah dapat mengurangi biaya penyediaan kantong plastik hingga Rp 10 juta. Maka, ia saat ini hanya ingin fokus pada penghilangan kresek maupun sedotan terlebih dahulu. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: