PBB: Gagal Menangani Perubahan Iklim Global Sama dengan Tindakan Bunuh Diri

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
18 Des 2018   18:00

Komentar
PBB: Gagal Menangani Perubahan Iklim Global Sama dengan Tindakan Bunuh Diri

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Berdasarkan survei terbaru, fenomena perubahan iklim atau Pemanasan Global (Global Warming) setelah 15 tahun beranjak dari permulaan abad 21 membuktikan bahwa hampir 80 persen orang di seluruh dunia merasakan kekhawatiran yang berlebih akibat perubahan yang terjadi.

Hal tersebut membuktikan bahwa milyaran umat manusia di seluruh dunia mengatakan hal yang sama. Yakni, seluruh negara di dunia harus menegaskan kembali peranan mereka terhadap krisis iklim global.

Kini, banyak bukti memang membuktikan bahwa Bumi yang kita tinggali saat ini berada dalam kondisi yang semakin buruk. Efek masif pemakaian dan eksplorasi tanpa henti dari energi fosil seperti minyak dan batu bara telah menyebabkan kekacauan polusi yang tak dapat dikontrol.

Baca Lainnya : Sebagai Negara Industri Terbesar, Kenapa AS Mangkir dari Konferensi Perubahan Iklim?

Imbasnya seperti terjadi efek rumah kaca, yaitu berkumpulnya emisi karbon dioksida di ujung atmosfer.

Bumi pun makin panas karena energi panas sebagian besar tak dapat dipantulkan lagi ke luar atmosfer akibat tertahan awan dan gas Co2. Akibatnya adalah meningkatnya suhu bumi dan perubahan iklim yang sangat ekstrim di seluruh belahan bumi.

Tak hanya menyebabkan mencairnya gunung-gunung es besar di daerah kutub yang menyebabkan naiknya permukaan air laut, namun juga menyebabkan rusaknya keseimbangan iklim.

Musim panas yang ekstrim, kemarau yang berkepanjangan, musim dingin yang jauh di bawah titik 0 derajat, hingga hujan badai yang tak berhenti.

Sebagaimana diketahui, fenomena-fenomena bencana cuaca tersebut telah nampak jelas di depan mata. Beberapa belahan bumi yang gersang dan bersuhu panas menjadi semakin gersang dan mencapai titik panas ekstrem 40 hingga 50 derajat celsius seperti yang terjadi di India beberapa waktu lalu.

Baca Lainnya : KTT Perubahan Iklim : Bank Dunia Kucurkan US$ 200 Miliar untuk Perangi Perubahan Iklim

Kemudian, menurunnya secara drastis suhu musim dingin di beberapa negara Eropa dan Amerika bahkan hingga menyentuh angka minus 20 derajat celsius.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres, memperingatkan para perunding pada pertemuan perubahan iklim di Polandia bahwa kegagalan meningkatkan upaya perubahan iklim akan "bukan hanya tak bermoral tetapi juga tindakan bunuh diri" bagi planet ini.

Pada pembicaraan PBB itu dirinya mencoba mendorong COP24 berhasil membuat kesimpulan. Sekelompok negara mengatakan mereka akan meningkatkan rencana iklim mereka sebelum tahun 2020.

Uni Eropa dan lainnya mengatakan mereka merespon urgensi dari sains. Beberapa pengamat yakin bahwa kembalinya Guterres setelah meninggalkan pembicaraan-pembicaraan ini adalah tanda bahwa tidak ada kemajuan signifikan yang dibuat.

Baca Lainnya : Aktivis Desak Revisi Target Perubahan Iklim untuk Selamatkan Pangan

Dalam pidatonya di konferensi, ia menggarisbawahi fakta itu, memohon para delegasi untuk mempercepat laju negosiasi dan terbuka untuk berkompromi. Pihaknya mengatakan bahwa isu-isu politik utama di Polandia masih belum terpecahkan.

"Membuang-buang kesempatan ini akan membahayakan usaha terakhir kita untuk menghentikan perubahan iklim," kata Guterres. "Itu bukan hanya tak bermoral, tetapi juga tindakan bunuh diri."

Sementara itu, Indonesia sendiri, perubahan iklim telah memicu bencana kekacauan cuaca yang aneh.

Di wilayah negara-negara sepanjang khatulistiwa menjelang fase masa-masa memasuki kemarau justru malah terjadi hujan lebat dan angin kencang yang tak menentu. [NN]


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: