Teken Kerjasama dengan EFTA, Sawit Indonesia Melenggang ke Eropa

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Des 2018   17:30 WIB

Komentar
Teken Kerjasama dengan EFTA, Sawit Indonesia Melenggang ke Eropa

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Setelah 8 tahun bernegosiasi, pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani perjanjian ekonomi dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) yang bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi pada Minggu (17/12) kemarin.

Berdasarkan kesepakatan itu, tarif dan hambatan non-tarif akan dihilangkan untuk ribuan produk yang diperdagangkan antara Indonesia dan negara-negara EFTA yaitu Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Islandia. 

Di antara produk tersebut, minyak sawit Indonesia akan mendapatkan akses pasar penuh di Islandia dan Norwegia, dengan pengecualian produk sawit untuk pakan ternak selain untuk ikan, menurut pernyataan resmi pemerintah di Jakarta.

Baca Lainnya : Meski Melunak, Uni Eropa Konsisten Meminta Komitmen Sawit Berkelanjutan Indonesia

Dalam sebuah pernyataan, kedutaan besar Swiss di Jakarta menyatakan bahwa Swiss juga akan memberikan akses lebih mudah untuk minyak sawit, tetapi tetap berada dalam batasan  kuota. 

Menteri Perdagangan Indonesia, Enggartiasto Lukita mengatakan, diskusi tentang akses pasar untuk minyak kelapa sawit adalah titik bertahan yang menyeret negosiasi selama bertahun-tahun. Pembicaraan putaran pertama diadakan pada awal 2011 silam.

"Mereka menahan laju pemberian komoditi dari Indonesia. Kita dan AFTA sebenarnya sama sama mendapatkan keuntungan, mari kita sama sama lupakan ini dan ancaman meninggalkan salmon norwegia biarlah berlalu," kata Enggartiasto kepada wartawan setelah penandatanganan perjanjian.

Anggota Dewan Federal Swiss, Johann N. Schneider-Ammann mengatakan, perjanjian itu didasarkan pada produksi minyak sawit yang berkelanjutan.

Baca Lainnya : Dorong Produktivitas Ekspor, Pemerintah Tawarkan Solusi Peremajaan Sawit

"Sejauh menyangkut minyak kelapa sawit, percayalah, kami melakukan diskusi intensif di Swiss juga dan kami menemukan solusi dengan mitra kami di sini di Indonesia, solusi untuk menyeimbangkan kepentingan dan untuk tetap pada saat yang sama sangat hormat sejauh masalah minyak sawit," katanya pada konferensi pers.

Produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia Indonesia sering mencoba meyakinkan pembeli bahwa minyak sawitnya diproduksi secara berkelanjutan.

Lukita pada hari Minggu mengulangi argumen pemerintah bahwa produksi minyak sawit membutuhkan lebih sedikit lahan daripada minyak nabati lainnya, membuatnya tidak adil untuk menyalahkan deforestasi di perkebunan sawit.

Baca Lainnya : Lahan Sawit yang Miliki ISPO Masih Sedikit untuk Bersaing di Pasar Eropa

Greenpeace mengatakan, lebih dari 74 juta hektar hutan hujan Indonesia - mewakili wilayah seluas dua kali ukuran Jerman - telah ditebang, dibakar atau didegradasi dalam setengah abad terakhir, yang kelompok itu disalahkan pada industri minyak sawit, pulp dan kertas.

Produk ekspor utama Indonesia lainnya seperti ikan, kopi dan tekstil juga akan mendapatkan perlakuan istimewa berdasarkan kesepakatan ini, dengan imbalan akses yang lebih besar untuk produk utama negara-negara EFTA, seperti emas, obat-obatan dan produk susu.

Pada 2017, perdagangan Indonesia-EFTA bernilai $ 2,4 miliar, dengan Indonesia memiliki surplus perdagangan sebesar $ 212 juta. Negara-negara EFTA menempatkan $ 621 juta investasi asing langsung ke Indonesia pada tahun 2017, menurut catatan Indonesia. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: