Longsor di Tobasa, Tim SAR Gabungan Temukan 8 Jenazah

TrubusNews
Karmin Winarta
14 Des 2018   06:25 WIB

Komentar
Longsor di Tobasa, Tim SAR Gabungan Temukan 8 Jenazah

Bencana longsor (Foto : Reza Perdana)

Trubus.id -- Tim SAR gabungan berhasil menemukan 8 jenazah tertimbun longsor di Desa Halado, Kecamatan Pintu Pohan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) Sumatera Utara.

"Longsor menimbun 4 rumah dengan 12 orang warga di dalam rumah saat masih tidur," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (13/12)

Dijelaskannya, saat ini 2 orang masih dalam pencarian dan 2 orang selamat dalam kondisi luka-luka. Korban dibawa ke rumah sakit terdekat.

Tim SAR gabungan dari BPBD Toba Samosir bersama dengan TNI, Polri, Basarnas, SKPD, relawan dari PT Inalum, PT Jasa Tirta, PT Badjra Daya, PT TPL, relawan lain dan masyarakat terus melakukan pencarian dan evakuasi korban.

"Bupati dan Wakil Bupati Tobasa telah meninjau ke lokasi bencana. 5 unit alat berat dikerahkan untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban longsor," terang Sutopo.

Longsor terus terjadi cukup merata di beberapa wilayah di Indonesia. Tercatat sudah terjadi 430 kejadian bencana longsor di Indonesia sejak (1/1) hingga (13/12). Dampak yang ditimbulkan 129 orang meninggal dan hilang, 115 orang luka-luka, 37.933 orang mengungsi dan terdampak, dan 1.948 rumah rusak.

"Bencana longsor diperkirakan akan terus terjadi seiring meningkatnya curah hujan. Puncak hujan periode ini sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Januari-Februari 2019 mendatang," terangnya.

Sutopo mengimbau kepada asyarakat untuk selalu waspada. Prediksi daerah rawan longsor bulanan di seluruh Indonesia dapat dilihat pada website PVMBG, bahkan hingga tingkat kecamatan dengan tingkat bahayanya dari rendah, sedang dan tinggi. 

"BPBD, aparat lain dan masyarakat dapat menggunakan peta tersebut sebagai rujukan untuk meningkatkan sosialisasi dan kewaspadaannya," ujarnya.

Mitigasi bencana longsor, baik struktural dan non struktural masih perlu ditingkatkan. Sistem peringatan dini longsor masih sangat terbatas jumlahnya. Hanya sekitar 300-400 unit yang ada di daerah rawan longsor, sementara kebutuhannya lebih dari ratusan ribu unit.

Terbatasnya anggaran baik APBN dan APBD menyebabkan belum semua daerah rawan longsor memiliki peringatan dini longsor. Peran dunia usaha dan BUMN/BUMD juga masih sangat minim membantu pengadaaan alat ini di daerah operasinya.

"Sosialisasi ke masyarakat mengenai antisipasi longsor juga masih perlu terus ditingkatkan," tandasnya. (RP)

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Menkraf Dorong Indonesia Miliki Peta Geospasial Pariwisata

Peristiwa   22 Feb 2020 - 14:25 WIB
Bagikan:          

Italia Umumkan Kasus Kematian Kedua Akibat Covid19

Peristiwa   22 Feb 2020 - 18:36 WIB
Bagikan: