Viral Hujan Es di Depok, Berikut Ini Indikasi Kemunculannya

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
12 Des 2018   21:30

Komentar
Viral Hujan Es di Depok, Berikut Ini Indikasi Kemunculannya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Jakarta, Tangerang, hingga Depok, sejak Senin (12/12) siang hingga petang. Berbeda dengan yang terjadi di Jakarta dan Tangerang, fenomena hujan es juga terjadi di Depok pada waktu bersamaan.

Video ini pertama kali menjadi viral di media sosial usai diunggah di akun instagram @depok_update, Rabu (12/12). Disebutkan, fenomena ini terjadi di jalan Serua, Bojong Sari, Kota Depok, Jawa Barat di hari yang sama. 

Dana, petugas Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat sendiri telah membenarkan adanya fenomena itu. Namun demikian, ia mengaku pihak BPBD Jabar belum menerima laporan adanya kerusakan akibat peristiwa tersebut. 

"Iya, ada hujan es di wilayah Depok. Sampai saat ini belum ada laporan kerusakan," katanya, Rabu (12/12) petang. 

Baca Lainnya : Kejadian Langka, Hujan Es Sebesar Kerikil Terjadi di Jakarta

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Jawa Barat memang sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca buruk untuk beberapa wilayah di sana. Namun BMKG tidak menginformamsikan akan adanya fenomena hujan es yang terjadi di Depok.

Dalam peringatan yang dikeluarkan Rabu (12/12) pagi, BMKG hanya mengeluarkan peringatan akan datangnya cuaca buruk di sebagian wilayah Bogor, Depok, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Subang, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kuningan. Wilayah tersebut disebut berpotensi hujan lebat hingga sedang disertai kilat/petir dan angin kencang.

Pejabat Humas BMKG Harry Tirto menjelaskan, fenomena hujan es adalah kejadian alamiah. Fenomena ini biasa terjadi pada musim pancaroba. Biasanya, durasi hujan es juga tidak terlalu lama. 

Baca Lainnya : BMKG: Jangan Kaget, Hujan Es Biasa Terjadi di Musim Pancaroba

Indikasi kemungkinan terjadinya hujan es, menurut BMKG, yang pertama adalah sehari sebelumnya udara dari malam hingga pagi terasa panas atau gerah. Udara panas tersebut akibat radiasi matahari. Sekitar pukul 10.00 pagi, mulai muncul awan kumulus. Awan tersebut lalu berubah menjadi abu-abu yang disebut sebagai cumulonimbus (Cb).

"Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang, baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak," ujar Harry. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: