Realisasi Sebaran Pupuk Bersubsidi Telah Mencapai 88 Persen

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
07 Des 2018   12:30

Komentar
Realisasi Sebaran Pupuk Bersubsidi Telah Mencapai 88 Persen

Pupuk bersubsidi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- PT Pupuk Indonesia (Persero) hingga akhir November 2018 menyalurkan pupuk bersubsidi 8.345.804 ton atau 88 persen dari jumlah yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2018 sebesar 9,55 juta ton. Direktur Pemasaran Pupuk Indonesia Achmad Tossin Sutawikara optimistis hingga akhir 2018 perseroan dapat menyalurkan pupuk bersubsidi 100 persen.

"Optimistis, soalnya pabrik-pabrik semuanya berjalan. Stok nasional sekarang sudah 180 persen, jadi harusnya kalaupun butuh pasti terpenuhi," kata Achmad Tossin, Kamis (6/12). 

Pupuk Indonesia menjamin bahwa pada musim tanam Oktober 2018 hingga Maret 2019 ini, stok pupuk nasional cukup dan distribusinya tidak terganggu. Hingga November 2018 sendiri, stok pupuk bersubsidi nasional di Lini III (gudang yang berlokasi di kabupaten) dan Lini IV (kios resmi) totalnya sebesar 1,29 juta ton.

Baca Lainnya : Pemerintah Terus Kawal Pupuk Bersubsidi untuk Petani Jogja

Jumlah tersebut dua kali lipat dari ketentuan stok yang ditetapkan oleh Pemerintah, jumlah berlimpah itu belum termasuk dengan stok yang terdapat di gudang pabrik dan provinsi. Rinciannya adalah stok Lini III & IV terdiri dari 501.356 ton Urea, 333.583 ton NPK, 121.603 ton Organik, 179.437 ton SP-36 dan 163.401 ton ZA.

Pupuk Indonesia juga mengimbau petani agar bergabung dengan kelompok tani, sehingga akses untuk memperoleh pupuk subsidi bisa lebih mudah.

Sebab, pupuk bersubsidi hanya dapat diakses oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani dan memilki Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebagaimana yang diatur oleh Kementerian Pertanian. RDKK sendiri berfungsi untuk menentukan alokasi pupuk subsidi yang didasarkan pada pengajuan.

Baca Lainnya : Polisi Ungkap Penyelewengan Pupuk Bersubsidi di Bengkayang

"Dengan bergabung ke dalam kelompok tani, kebutuhan pupuk petani dapat terakomodir dalam RDKK. Sehingga tidak ada lagi cerita bahwa petani tidak dapat memperoleh pupuk subsidi," kata Tossin.

Guna menanggapi kemungkinan terhambatnya pasokan pupuk pada saat masa tanam, Tossin menegaskan bahwa pihaknya juga telah mengantisipasi dengan meningkatkan sistem monitoring distribusi, menambah jumlah tenaga pemasaran di daerah-daerah,dan memperkuat armada transportasi baik darat maupun laut.

Upaya juga dilakukan dalam meningkatkan jumlah stok pupuk non subsidi di masing-masing kios pupuk yang tadinya sebanyak 200 kg masing-masing untuk urea dan NPK, kini menjadi 500 kg baik untuk NPK dan urea. [NN]
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: