Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat Melemah, Ini Penyebabnya

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
04 Des 2018   22:00

Komentar
Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat Melemah, Ini Penyebabnya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, nilai tukar petani perkebunan rakyat pada November turun mencapai sebesar -0,69. Jatuhnya nilai tukar pekebun disebabkan oleh turunnya harga beberapa komoditas kebun seperti kelapa sawit, kelapa, dan kakao.

"Nilai tukar petani perkebunan rakyat periode November melemah menjadi 95,59 dibandingkan periode Oktober sebesar 96,26," jelas Suhariyanto. 

Baca Lainnya : BPS Laporkan Sektor Pertanian Menyusut Sebabkan Pengangguran di Desa Meningkat

Suhariyanto menjelaskan nilai tukar petani perkebunan rakyat jatuh di seluruh daerah Sumatera  dan Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sementara itu, petani perkebunan rakyat di Jogjakarta, Jawa Timur, dan Banten mengalami kenaikan tipis.

"Berbeda dengan petani tanaman pangan yang justru meningkat 1,37. Perbedaan nilai tukar petani di beberapa daerah juga dikarenakan hasil produksi yang berbeda," tambahnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat harga referensi produk minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) untuk penetapan bea keluar periode Desember 2018 adalah US$ 549,37 per ton, melemah USD 28,97 atau 5,01% dari periode November 2018 yang sebesar US$ 578,34/MT.

Baca Lainnya : BPS: Harga Gabah Kering Panen Naik, Kesejahteraan Petani Semakin Membaik

“Saat ini harga referensi CPO kembali melemah dan berada di bawah US$ 750 per ton,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan.

Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 106 Tahun 2018 tentang penetapan harga patokan ekspor (HPE) atas produk pertanian dan kehutanan yang dikenakan bea keluar. [RN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: