Gakkum LHK Gerebek Vila Penampungan 96 Satwa Dilindungi di Kawasan Puncak

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
04 Des 2018   17:00

Komentar
Gakkum LHK Gerebek Vila Penampungan 96 Satwa Dilindungi di Kawasan Puncak

Merak hijau masuk kategori satwa dilindungi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Operasi kepemilikan dan peredaran ilegal tumbuhan dan satwa dilindungi yang dilakukan Tim Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (GAKKUM LHK) berhasil mengungkap kepemilikan ilegal 96 jenis satwa dilindungi. 

Dari sebuah vila di Kampung Warungdoyong RT 02/01, Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor, Tim mengamankan 38 ekor merak biru (Pavo cristatus), 25 ekor merak hijau (Pavo muticus), 11 ekor merak silangan, 11 ekor anakan merak, 7 ekor merak putih, seekor binturong (Arctictis binturong) dan tiga opsetan kepala rusa.

Baca Lainnya : Miris, Oknum Perwira Polisi di Mabes Polri Ikut Berburu Rusa di TN Ujung Kulon

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sustyo Iriyono dalam keterangan persnya mengatakan, villa yang menampung satwa dilindungi tersebut diduga milik seorang warga Jakarta berinisial IB. Ketika dikonfirmasi, IB sendiri telah mengakui bahwa satwa-satwa yang dipelihara tidak didukung dengan izin penangkaran yang sah.

Dalam keterangan pers yang dirilis Selasa (4/12) itu juga disebutkan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, tindakan ini merupakan pidana kehutanan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) KLHK akan mengembangkan kasus ini sampai kepada tahapan penyelidikan.

Sementara itu, untuk ke 96 satwa dilindungi yang telah diamankan, PPNS akan segera mengevakuasi dan menitip-rawatkan satwa dilindungi tersebut ke Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia dan Yayasan Cikananga.

Baca Lainnya : Perdagangan Satwa Bisa Dijerat Pidana Pencucian Uang, Begini Penjelasannya

Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani menegaskan bahwa perlunya perlindungan tumbuhan dan satwa liar secara konsisten dan berkelanjutan.

“Upaya penegakan hukum TSL selama tiga tahun terakhir (2015-2018) telah memberikan dampak yang signifikan dalam menekan kejahatan terhadap satwa liar dengan telah berhasil menangani lebih dari 200 kasus kejahatan satwa liar,” ujarnya.

Rasio mengatakan bahwa saat ini diperlukan peran serta semua pihak akan semakin maraknya perdagangan satwa liar dilindungi secara daring (online). [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Baru Dibuka, Bukit Gunung Rinjani Terbakar

Thomas Aquinus   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan: