Menatap Masa Depan Terumbu Karang di Perairan Nusantara

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
29 Nov 2018   20:30

Komentar
Menatap Masa Depan Terumbu Karang di Perairan Nusantara

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Pusat Penelitian Oseanografi melihat kerusakan terumbu karang. (Foto : Doc/ LIPI)

Berdasarkan hasil analisa Oseanografi LIPI, meningkatnya presentase terumbu karang kategori jelek lebih banyak dipicu oleh faktor alami seperti perubahan iklim yang mengakibatkan coral bleaching (pemutihan karang), serta banyaknya terumbu karang yang terkena hama dan penyakit.

Penangkapan ikan dengan menggunakan bom, salah satu penyebab rusaknya terumbu karang. (FOTO: Ilustrasi)

Sedangkan faktor antropogenik seperti sedimentasi, pencemaran dan eutrofikasi sampai maraknya pengeboman dan pengambilan karang yang berlebihan juga berkontribusi pada penurunan tren.

Saat ini, LIPI mengungkap, status terumbu karang dalam kategori sangat baik di Indonesia hanya 6,56 persen dengan jumlah 70 site. Sementara status terumbu karang yang buruk persentasinya mencapai 36,18 persen dengan jumlah 386 site. Namun menurut para peneliti LIPI, kategori buruk dari terumbu karang tersebut banyak diakibatkan karena kondisi alam atau perubahan iklim global.

"Secara umum kerusakan terjadi karena perubahan iklim global. Kerusakan bisa terjadi karena alam dan atropogenik. Untuk alam contohnya gempa bumi atau tsunami seperti di Laut Banda, populasi pemangsa polikarang yang tinggi, serta perubahan iklim global," papar Giyanto, Peneliti dari Oseaografi LIPI.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah menyebut, penyebab kerusakan karang utama bukan dari perdagangan seperti yang sebelumnya sempat merebak. "Penyebab utamanya adalah masih maraknya pengeboman," tegas Dirhamsyah di Graha Widya LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (28/11).

Lebih lanjut Dirhamsyah mengungkapkan, kategori terumbu karang sangat baik meningkat karena sudah ada peningkatan kesadaran pelestarian. Tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem terumbu karang.

Direktur Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia (AKKI), Dirga Adhi Putra Singkaru menambahkan, jumlah karang yang sangat baik di Indonesia saat ini sudah meningkat sejak 1993 sampai 2018 sebesar 6 persen. Terjadi tren karang yang semakin buruk naik, tapi terjadi tren karang yang semakin baik juga meningkat. Hal tersebut juga dibenarkan Dirhamsyah.

"Sejak 1993 kondisi karang yang sangat baik hanya 6 persen. Tapi jika dilihat saat ini luasan terumbu karang 6 persen pada tahun 1993 sama 2018 pasti jauh berbeda," ucapnya.

Terumbu karang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, tapi rentang terhadap kerusakan, serta membutuhkan waktu yang lama dan perlakuan khusus untuk mengembalikan terumbu karang seperti semula.

Berdasarkan hasil pemetaan 2018 dan data sampai 2017, beberapa lokasi seperti di Nias, kesehatan terumbu karang kurang karena perairan agak keruh, Raja Ampat juga kurang bagus dan Wakatobi yang tinggi karena tutupan karangnya bagus.

Peneliti lain dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono menjelaskan, bahwa Indonesia merupakan pusat dari ekosistem terumbu karang, khususnya Indonesia bagian tengah.

"Di Australia nggak ada kerusakan yang disebabkan manusia, hanya karena kegiatan pariwisata. Bleaching hanya terjadi di Indonesia Barat, sementara Indonesia Timur tidak pernah kena karena terdapat arus lintas Indonesia yang bisa menjaga karang," sebut Suharsono. 

Upaya Menjaga Kelestarian Terumbu Karang

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: