Sampah Bambu Hingga Pot, Penyebab Banjir Tak Lazim di Bangkinang, Riau

TrubusNews
M Syukur | Followers 0
29 Nov 2018   15:05

Komentar
Sampah Bambu Hingga Pot, Penyebab Banjir Tak Lazim di Bangkinang, Riau

Pintu air (Foto : M Syukur)

Trubus.id -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau menemukan penyebab banjir "tak biasa" yang merendam Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, Riau. Penyebab itu sudah dibersihkan sehingga banjir yang merendam ratusan rumah dan pertokoan itu sudah mulai surut.

"Ada tumpukan bambu, sampah dan pot bunga yang menutup saluran air di sana. Ini menjadi penyebabnya karena drainase tak berfungsi dengan baik," kata Kepala BPBD Riau Edward Sanger, Kamis (29/11/2018).

Edward menerangkan, banjir di Bangkinang itu sudah surut. Meski demikian masyarakat belum bisa beraktivitas seperti biasa karena masih membersihkan material yang terbawa banjir masuk ke rumah.

"Mudah-mudahan dengan normalisasi drainase, tidak ada banjir lagi," ucap Edward.

Baca Lainnya: Aksi Bocah Bertahan Hidup di Tengah Kepungan Banjir di Pekanbaru

Edward menyatakan, banjir di Bangkinang merupakan hal tak biasa. Daerah ini selain berada di dataran tinggi juga lumayan jauh dari Sungai Kampar. Apalagi saat banjir itu, kondisi air di sungai itu tidak meluap.

"Biasanya Bangkinang seberang yang banjir karena sungai, jarang sampai ke Bangkinang kota. Kalau sampai itu 40 tahun sekali, sekarang tidak ada lagi karena sudah ada PLTA," terang Edward.

Terpisah, Manajer Unit Layanan PLTA Koto Panjang, Muhammad Rusdi, menyebut pihaknya sudah menutup tiga pintu air yang sudah dibuka tiga pekan belakangan. Hal ini dilakukan karena elavasi waduk sudah normal.

"Siang pukul 12.00 WIB sudah ditutup tiga pintu pelimpahan air itu," sebut Rusdi.

Baca Lainnya: Jalan Sering Terendam Banjir 1 Meter, Warga Satu Kelurahan di Pekanbaru Terisolir

Rusdi menerangkan, elavasi waduk PLTA Koto Panjang pukul 08.00 WIB berada di 82.14 mDPL. Elevasi ini ada penurunan setinggi 36 cm dari pelepasan awal. Hal ini disebabkan Air keluar/outflow (pintu pelimpah + turbin) lebih besar dari air masuk waduk atau inflow.

Di samping itu, BMKG juga melaporkan bahwa cuaca dan curah hujan di sisi hulu sangat sedikit. Ditambah lagi kenaikan elevasi sungai Kampar Kanan dan Sungai Batang Mahat stabil.

"Makanya pintu pelepasan ditutup untuk menjaga ketersediaan energi (air) sebagai energi untuk operasional PLTA Koto Panjang," kata Rusdi.  

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: