Tak Ada Kolaborasi, 3 Lokasi KJA di Indonesia Terbengkalai

TrubusNews
Binsar Marulitua
29 Nov 2018   08:00 WIB

Komentar
Tak Ada Kolaborasi, 3 Lokasi KJA di Indonesia Terbengkalai

Ilustraai (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ditengah Stagnan produksi perikanan tangkap,  perikanan budidaya Indonesia sebenarnya memiliki harapan untuk bangkit, setelah pemerintah membuat Keramba Jaring Apung (KJA) Offshore (lepas pantai). Tetapi pengerjaan yang menghabiskan uang negara sebesar Rp131,451 miliar tersebut terbengkalai karena kerusakan teknis.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan  Perikanan (KKP) memilih tiga lokasi untuk proyek penempatan KJA buatan Norwegia tersebut. KJA Pangandaran, Jawa Barat, KJA Karimunjawa, Jawa Tengah dan KJA Sabang.  Kesalahan pemilihan lokasi membuat KJA tersebut rusak sebelum menuai hasil.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran, Yudi Nurul Ikhsan mengatakan, belum ada kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi dan kementerian sebelum menentukan pemilihan lokasi tersebut. Sehingga, terobosan asal yang dikembangkan dari Norwegia tersebut tak sesuai dengan dengan karakter lepas pantai Indonesia.

"Saya bilang KJA Offshore terburu-buru, perlu berkolaborasi terutama stakeholder yang berada di budidaya. Tanpa memepersiapkan penelitian dan parameter lingkungan dan unsur-unsur lainnya, pemindahan KJA akan sia-sia " jelas Yudi saat jumpa pers, pameran industri Aquatic Asia dan Indoaqua 2018, di Pusat Niaga JIExpo, Jakarta, Rabu (28/11).

Yudi menjelaskan sebenarnya Indonesia memiliki Peta Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) yang tertuang dalam regulasi turunan Peraturan Daerah (Perda).  Di dalam Perda tersebut ada zonasi untuk budidaya dan beberapa ketentuan dan risiko.

"Kerapu dan Baramuli mempunyai daya dukung dan keramba yang berbeda. Tinggal dicek apakah Baramuli cocok untuk di Selatan atau Utara, atau Kerapu cocok dimana," tambahnya.

Tetapi, ditambahkan Yudi, ketiga KJA tersebut memiliki prospek keberhasilan yang besar diterapkan di Indonesia, bahkan jauh lebih bagus.

Berdasarkan data laporan Bank Dunia "Fish to 2030 Prospect for Fisheries and Aquaculture" mempreediksi, konsumsi ikan dunia pada 2030 mencapai 151.771.000 ton yang terdiri atas ikan tangkapan sebesar 58.151.000 ton dan ikan budidaya sebesar 93.612.000 ton.

Sementara, Produksi ikan dunia pada 2030 sebanyak 186.842.000 ton yang disumbangkan dari perikanan tangkap 93.229.000 ton dan perikanan budidaya 93.612.000 ton.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Indonesia Jadi Contoh Negara Lain Manfaatkan Biodiesel

Peristiwa   09 Des 2019 - 17:39 WIB
Bagikan:          
Bagikan: