LIPI Ungkap Kondisi Terkini Terumbu Karang Indonesia, Seperti Apa?

TrubusNews
Astri Sofyanti
28 Nov 2018   14:00 WIB

Komentar
LIPI Ungkap Kondisi Terkini Terumbu Karang Indonesia, Seperti Apa?

Penyampaian status terumbu karang indonesia 2018 (Foto : Astri Sofyanti/ trubus.id)

Trubus.id -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) melaporkan kondisi terkini terumbu karang di Indonesia mengalami perubahan dibandingkan beberapa tahun belakangan.

Hasil penelitian dan pemantauan terumbu karang terhadap 1067 site di seluruh Indonesia menunjukkan, terumbu karang dalam kategori jelek sebanyak 386 site (36.18 persen), kategori cukup sebanyak 366 site (34.3 persen), kategori baik sebanyak 245 site (22.96 persen) dan kategori sangat baik sebesar 70 site (6.56 persen). 

"Terumbu karang yang masuk ke dalam kategori baik dan cukup mengalami tren penurunan beberapa tahun terakhir. Selain itu, terumbu kareng kategori sangat baik dan jelek mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya," demikian disampaikan Kepala Pusat Oseanografi LIPI Dr. Dirhamsyah saat ditemui di Graha Widya LIPI, Gatot Subroto, Rabu (28/11).

Baca Lainnya: Tikus Ternyata Berperan pada Hancurnya Terumbu Karang, Kok Bisa?

Berdasarkan hasil analisa Oseanografi LIPI, meningkatnya presentase terumbu karang kategori jelek lebih banyak dipicu oleh faktor alami seperti perubahan iklim yang mengakibatkan coral bleaching (pemutihan karang), serta banyaknya terumbu karang yang terkena hama dan penyakit.

Sedangkan faktor antropogenik seperti sedimentasi, pencemaran dan eutrofikasi sampai maraknya pengeboman dan pengambilan karang yang berlebihan juga berkontribusi pada penurunan tren.

Kepala Pusat Oseanografi LIPI Dr. Dirhamsyah mengungkapkan, penyampaian status ini juga kontribusi dari P2O LIPI sebagai Walidata Terumbu Karang Indonesia.

Informasi status terumbu karang tahun 2018 ini diharapakan dapat digunakan dalam penyusunan kebijakan, pengelolaan dan konservasi terumbu karang nasional, serta dapat memberikan prediksi kondisi terumbu karang di Indonesia ke depannya.

Ketersedian data terumbu karang diperoleh dari hasil penelitian dan monitoring P2O LIPI yang telah dilakukan dalam rentang waktu 25 tahun serta didukung oleh data-data dari institusi lain. Pengukuran tersebut didasarkan pada kriteria persentase tutupan karang hidup yaitu sangat baik dengan tutupan 76-100 persen, baik (tutupan 51-75 persen), cukup (tutupan 26-50 persen) danjelek (tutupan 0-25 persen). 

Baca Lainnya: Indonesia Pemilik 2,5 Juta Hektare Terumbu Karang

Hasil pengukuran terbaru ini dilakukan melalui pemetaan citra satelit. Luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia yaitu seluas 284.300 km2 dengan dan penyumbang terbesar adalah coral triangle yang menyumbang sekitar 34 persen atau luas 73.000 km2 dari luas terumbu karang dunia. 

Kondis tersebut membuat Indonesia sebagai pusat segitiga karang dunia yang memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi dengan presentase 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku atau sekitar 70 persen lebih jenis karang dunia dan lima jenis diantaranya merupakan jenis  endemik atau hanya ditemukan di Indonesia.

Sebagai walidata Terumbu karang Indonesia yang harus menyampaikan perbaruan status setiap tahunnya, P2O LIPI memiliki tanggung jawab sebagai Scientific Authority untuk menilai potensi sumberdaya dan pemanfaatan biota laut, baik pemanfaatan melalui pengambilan dari alam ataupun dari budidaya. 

Salah satu pemanfaatan sumberdaya karang yang potensial adalah transplantasi karang. Dengan adanya transplantasi karang dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal dan mengurangi pengangguran karena menyerap tenaga kerja hingga 12.000 orang. Oleh karena itu, layak bagi Indonesia untuk memelihara dan mengelola terumbu karang yang kita miliki secara berkelanjutan. 

Lebih lanjut, Dirmansyah mengatakan bahwa pengambilan karang alami yang dilakukan oleh nelayan atau pengusaha karang telah memenuhi NDF (Non Detrimental Finding) yang ditetapkan oleh CITES.

Berdasarkan hasil kajian Puslit Oseanografi yang dilakukan di beberapa provinsi tempat pengambilan karang, kegiatan ini ternyata tidak menyebabkan terjadinya kerusakan serta penurunan yang signifikan terhadap populasi karang di habitat aslinya. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: