Aksi Bocah Bertahan Hidup di Tengah Kepungan Banjir di Pekanbaru

TrubusNews
M Syukur | Followers 0
27 Nov 2018   11:30

Komentar
Aksi Bocah Bertahan Hidup di Tengah Kepungan Banjir di Pekanbaru

Derik, bocah yang bertahan hidup di tengah kepungan banjir (Foto : M Syukur)

Trubus.id -- Banjir di Perumahan Witayu belum mereda. Terkadang, air mulai surut tapi naik lagi seiring turunnya hujan deras di Kota Pekanbaru. Sebagian warga dari ratusan kepala keluarga kian nelangsa karena bantuan tak merata dan juga mulai habis bagi yang mendapatkannya.

Keadaan ini membuat bocah 13 tahun di perumahan itu, Derik, memutar otak membantu kedua orang tuanya untuk mendapatkan makanan berprotein karena selama ini cuma mengkonsumsi mi instan. Diapun membuat pancing lalu menyebarnya di kolong rumah warga lain yang terendam.

Agar tak mengganggu warga lain, pelajar kelas 1 SMP ini memilih rumah rusak tak berpenghuni lagi. Ada beberapa rumah yang dipilihnya, berjarak sekitar 10 meter dari kediamannya.

Baca Lainnya: Jalan Sering Terendam Banjir 1 Meter, Warga Satu Kelurahan di Pekanbaru Terisolir

Pantauan di lokasi pada Senin petang, 26 November 2018, ada tiga pancing yang disebarnya dalam jarak beberapa meter. Sebagai pemancing, Derik bersabar hingga beberapa menit kemudian pancingannya disambar ikan.

Tarikan demi tarikan tali pancing membuat wajah Derik sumringah. Dalam hitungan 30 menit sudah enam ekor ikan jenis gabus dan belut masuk ke wadah yang dibawanya.

"Sudah 6 yang didapat. Ini mau dikasih mamak (ibu) buat dimasak," kata Derik kepada wartawan.

Sesekali, Derik memeriksa ember berisi pancingannya hanya untuk melihat apa ikannya masih hidup atau sudah mati. Dan tangkapannya kian bertambah seiring durasi memancingnya.

Sementara tante Derik, Miniarti, menyebut rumah mereka sudah sebulan belakangan digenangi air luapan Sungai Siak. Kondisi air tak menentu tergantung cuaca di Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai itu.

Baca Lainnya: Banjir di Riau Meluas, Ribuan Hektar Padi di Kuansing Terendam

"Sekarang sudah mulai surut. Kemarin airnya sampai setinggi pinggang orang dewasa," katanya.

Akibat banjir ini, beberapa orang tua terpaksa menyeberangkan anak mereka untuk sekolah menggunakan ban karet. Aktivitas ini sudah sebulan dilakukan.

"Cuman itu satu-satunya transportasi yang bisa digunakan," sebutnya.

Terpisah, Ketua RW 11 Junaedi menyebut kondisi air memang sudah mulai surut tapi tetap membuat warga khawatir. Pasalnya pada pagi hari air bisa naik kalau malamnya hujan lagi.

"Ini bukan banjir sekali dua kali, tapi setiap tahun begini," ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan banjir menahun ini. "Katanya 2019 mau buat bendungan air. Semoga saja benar supaya gak terendam banjir lagi perumahan kami ini," pungkasnya.

Sejauh ini, sudah ada tiga tenda bantuan dari dinas sosial setempat dibangun. Satunya tidak ada dapur umum sehingga membuat warga mengeluh karena minimnya bantuan.

"Cuma yang saya pertanggungjawabkan dua yang ada dapur umumnya. Untuk satunya sudah konsultasi dengan lurah, kami sangat peduli dengan masyarakat," tegasnya. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: