Kerja Kader Jumantik Tidak Maksimal, Ancaman DBD Semakin Tinggi

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
24 Nov 2018   09:00

Komentar
Kerja Kader Jumantik Tidak Maksimal, Ancaman DBD Semakin Tinggi

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Musim hujan telah tiba. Bencana kekeringan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia sedikit demi sedikit mulai reda. Namun demikian, ancaman bencana lain muncul seiring datangnya hujan. Yah, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) contohnya.

Yang membuat ancaman penyakit mematikan ini berpotensi terjadi salah satunya adalah kurang optimalnya kinerja kader jumantik. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Heri Nurdianto mengatakan, kader jumatik saat ini dianggap belum bekerja secara maksimal. Sebab, saat ini mereka mulai jarang yang berkeliling dari rumah ke rumah. Padahal, peranannya dianggap cukup efisien menekan angka demam berdarah.

Menurutnya, berdasarkan pemantauannya saat ini, sudah jarang kader jumantik yang masih berkeliling. Sementara, anak-anaklah yang paling rentan terkena serangan penyakit ini. Karena itu, terang Heri, pemerintah sudah seharusnya melakukan evaluasi kader jumantik yang telah ada saat ini.

Baca Lainnya : Musim Hujan, Risma Targetkan Tak Ada Penyakit DBD di Surabaya

“Pemerintah juga harus bisa menjamin layanan anak-anak yang terkena DBD, hal ini sebagai bentuk pemenuhan hak anak pada sektor kesehatan,” harapnya. Padahal salah satu tugas pemerintah adalah bisa menjamin kondisi lingkungan di masyarakat harus benar-benar sehat.

Untuk diketahui, pada 2018, hingga bulan Oktober, sudah ada 204 kasus pasien yang terkena DBD di Kota Kediri. Dari kasus tersebut, 1 orang meninggal dunia. Kasus di tahun ini pun menjadi perhatian karena terjadi peningkatan dari tahun lalu. Yakni yang ‘hanya’ 155 pasien.

Pembersihan jentik memang wajib dilakukan saat peralihan musim kemarau ke penghujan. Sebab, bisa menjadi pemicu faktor mewabahnya penyakit demam bedarah dengue (DBD). Terlebih kondisi tempat tinggal yang mendukung berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti, bisa menjadi ancaman serius bagi setiap orang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Hendik Suprianto menyampaikan, musim pancaroba memang sangat rawan menjadi waktu berkembangbiaknya nyamuk. Terutama Aedes aegypti sebagai penyebar virus DBD.

Baca Lainnya : Musim Hujan Tiba, Demam Berdarah Mulai Mengancam Warga

“Berkembangnya nyamuk itu pasti ada air, kalau tidak ada air tidak mungkin ada nyamuk di tempat tersebut,” kata Hendik.

Oleh karena itu, masyarakat diminta bisa mengantisipasi perkembangan nyamuk tersebut. Terutama di kamar mandi yang setiap hari tersedia air. Hendik menyarankan, kalau bisa kamar mandi memakai bak plastik. itu akan lebih efektif mengurangi berkembagbiaknya nyamuk dibanding bak permanen dari keramik.

Hendik menyebut, nyamuk jenis Aedes Agypti memiliki kebiasaan hidup yang berbeda dengan nyamuk biasa atau Culex. Atau yang biasa disebut nyamuk got.

“Nyamuk aedes lebih suka air yang bersih, dan dekat dengan manusia,” tandasnya. [RN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: