TN Wakatobi Belum Pastikan Penyebab Kematian Paus dengan Banyak Sampah dalam Tubuhnya

TrubusNews
Binsar Marulitua
21 Nov 2018   23:00 WIB

Komentar
TN Wakatobi Belum Pastikan Penyebab Kematian Paus  dengan Banyak Sampah dalam Tubuhnya

Sampah plastik yang ditemukan dalam perut bangkai paus yang ditemukan di Wakatobi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Minggu (18/11) lalu. Meski terdapat 5,9 kilogram plastik dalam tubuhnya, Balai Taman Nasional Wakatobi belum bisa memastikan penyebab kematian mamalia laut tersebut. 

"Untuk sementara belum bisa dipastikan penyebab kematian dari paus sperma tersebut," jelas Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Heri Santoso seperti dalam keterangan tertulis, Rabu (21/11). 

Baca Lainnya : Astaga, Ada Gelas Hingga Sandal Jepit di Perut Paus yang Mati di Wakatobi

Heri menjelaskan, paus tersebut berukuran panjang ± 9,5 meter, dan lebar ± 437 cm. Menurut hasil identifikasi bersama dengan mitra WWF, tim dosen Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan (AKKP) Wakatobi, serta masyarakat sekitar, terdapat sampah plastik dengan komposisi sampah gelas plastik 750 gram ada 115 buah, plastik keras 140 gram ada 19 buah, botol plastik 150 gram sebanyak 4 buah.  

Plastik lainnya berupa kantong plastik 260 gram ada 25 buah, serpihan kayu 740 gram sebanyak 6 potong, sandal jepit 270 gram sebanyak 2 buah, karung nilon 200 gram sebanyak 1 potong, tali rafia 3.260 gram atau lebih dari 1.000 potong.  Adapun total berat basah sampah yaitu 5,9 kilogram.

Baca Lainnya : Ini Penyebab Bangkai Paus di Aceh Timur Gagal Dikubur

Ditambahkan Heri, bangkai paus yang terdampar telah dikubur pada Selasa (20/11) kemarin, di sekitar pantai Kolowawa Desa Kapota Utara.

"Proses tersebut kami lakukan saat air pasang, sehingga memudahkan dalam penarikan bangkai ke darat," jelasnya.

Tindakan penguburan dilakukan guna mendapatkan spesimen Paus, yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan pendidikan, dan penelitian di kampus AKKP Wakatobi. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: