Risha Selesai Dibangun, Korban Bencana NTB Siap Tinggalkan Pengungsian

TrubusNews
Astri Sofyanti
19 Nov 2018   19:30 WIB

Komentar
Risha Selesai Dibangun, Korban Bencana NTB Siap Tinggalkan Pengungsian

Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) untuk korban gempa di NTB. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan, 15 Kepala Keluaga (KK) korban gempa di Lombok, NTB mulai meninggalkan tenda pengungsian. Aksi mereka dilakukan karena saat ini Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) untuk mereka, telah selesai dibangun.

"Sebanyak 15 KK korban gempa bumi kini sudah bisa pindah dari hunian sementara ke hunian tetap," ujar Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram, HM Kemal Islam di Mataram, NTB, Senin (19/11).

Baca Lainnya : Pemerintah Mulai Bangun 'Risha, Riko dan Rika' untuk Korban Gempa Lombok

Ke lima belas KK tersebut dikatakan Kemal sudah bisa menempati empat rumah di Pagesangan dan 11 rumah di Lingkungan Pengempel, Kecamatan Sandubaya.

Menurutnya, saat ini 20 rumah instan sederhana sedang dalam proses pembangunan di lingkungan Gontoran, Tegal dan Jangkuk. Lebih lanjut Kemal menjelaskan, selain bekerja sama dengan Wijaya Karya dalam pembangunan 120 Risha, guna mempercepat proses pembangunan rumah instan bagi korban gempa di Kota Mataram pemerintah daerah juga bekerja sama dengan PT Pembangunan Rumah Urban dalam penyediaan panel untuk Risha.

"PT Pembangunan Rumah Urban Purwakarta ini telah menyanggupi untuk mengirim panel untuk 200 unit Risha, dengan tipe 36," terangnya.

Saat ini dari ratusan korban gempa bumi yang telah mendapatkan transfer bantuan dana pembangunan rumah tahan gempa senilai Rp50 juta dari pemerintah, sebanyak 460 KK telah menyelesaikan desain dan rencana anggaran biaya (RAB) pembangunan rumah tahan gempa Risha tipe 36.

Baca Lainnya : Masuk Musim Hujan, Sejumlah Pengungsian di NTB Mulai Tergenang Air

"Tugas kami memberikan pendampingan teknis untuk pembuatan desain dan pendampingan administrasi dalam pembuatan RAB. Kami tidak masuk pada hal berkaitan dengan mambangun karena semuanya tergantung pokmas," pungkasnya.

Meski begitu, Kemal mengatakan, pemerintah kota saat ini masih kekurangan fasilitator. Saat ini hanya ada 40 fasilitator dari kebutuhan 120 orang fasilitator untuk membantu mendampingi proses pembangunan rumah warga yang rusak berat akibat gempa Juli lalu, yang jumlahnya 13 ribu lebih.

"Karena itu, kita tetap mengusulkan agar pemerintah bisa menganggarkan dan mencari lagi tenaga fasilitator, apalagi pemerintah menargetkan Juli 2019 semua harus tuntas," paparnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: