Harga Beras Mulai Melonjak, Ada Potensi Kekurangan Beras di Akhir Tahun

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
13 Nov 2018   15:15

Komentar
Harga Beras Mulai Melonjak,  Ada Potensi Kekurangan Beras di Akhir Tahun

Beras dalam kemasan 50 Kg (Foto : Astri Sofyanti/ trubus.id)

Trubus.id -- Guna mengendalikan harga beras di pasaran yang mulai melonjak, mantan Menteri Pertanian periode 2004-2009, Anton Apriyantono menyarankan Perusahaan Umun Badan urusan Logistik (Peru Bulog) segera mengguyur beras ke pasaran.

"Sekarang harusnya sudah menggelontorkan. Apalagi saat ini Bulog kan sudah bebas melakukan operasi pasar di sepanjang tahun," kata Anton di Jakarta, Selasa (13/11).

Hal ini dilakukan karena harga beras kualitas medium perlahan mengalami kenaikan. Menurut Anton, kenaikan ini terjadi akibat menipisnya produksi menjelang akhir tahun. Ia menilai besaran beras simpanan yang mencapai 2,4 juta ton sudah dapat diturunkan untuk menjaga harga hingga akhir tahun.

Baca Lainnya: Stok Beras Dalam Negeri Melimpah, Tapi Harganya...

Terlebih menurutnya, dengan lansiran data beras terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatkan surplus 2,85 juta ton, stok di pasaran bisa sangat pas-pasan hingga akhir tahun. Hal ini terlihat dari mulai meningkatnya harga gabah di tingkat petani.

"Ada potensi kekurangan beras di akhir tahun. Kan tiap tahun selalu begitu, akhir tahun sampai Februari biasa ada kekurangan. Nggak ada surplus," sebutnya.

Lebih lanjut Anton mengatakan, stok di pasaran bisa berpotensi kurang karena catatan surplus yang dirilis BPS lebih banyak tersimpan di rumah tangga. 

Potensi kekurangan beras di akhir tahun yang terindikasi dari harga terlihat juga dari data BPS yang menyebutkan adanya penyusutan luas lahan untuk pertanian padi.

"Lahan menyusut, sementara tiap tahun ada pertumbuhan masyarakat sekitar 1,4 persen. Konsumsi pasti nambah. Jadi kekurangan ini sesuatu yang jelas,” sambungnya.

Baca Lainnya: Jaga Stabilisasi Harga Beras, Bulog Siap Kawal Pasar

Sementara itu, pengamat perberasan sekaligus akademisi UI, Mohamad Ikhsan mengatakan, terus menanjak naiknya harga beras bukanlah keanehan yang terjadi akibat perdagangan. 

Kondisi ini menurutnya tak lain karena memang panenan sudah berkurang. Harga gabah dari petani pun dilihatnya memang juga sudah melambung.

Sehingga ia memperkirakan, untuk bisa mencapai harga normal beras medium, setidaknya Bulog mesti menggelontorkan stoknya sebanyak 100 ribu ton per bulan. Dalam data beras terbaru yang dirilis BPS beberapa minggu lalu, diproyeksikan akan terjadi defisit beras hingga 2,53 juta ton dalam kisaran Oktober Desember 2018.

Ini karena produksi padi dalam tiga bulan tersebut hanya 6,89 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 3,94 juta ton beras. Sementara itu, konsumsi masyarakat di periode yang sama diprediksi mencapai 7,45 juta ton.

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi, mengakui pihaknya butuh gelontoran beras dari Bulog. 

“Saat ini harga beras medium di Pasar Cipinang sudah berkisar Rp9.100 per kilo. Padahal normalnya, harga beras medium di pasar tersebut sekitar Rp8.700 per kg,” tutur Arief.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: