Musim Hujan Tiba, Nasib Pengungsi Gempa NTB Kian Terpuruk  

TrubusNews
Astri Sofyanti
13 Nov 2018   14:16 WIB

Komentar
Musim Hujan Tiba, Nasib Pengungsi Gempa NTB Kian Terpuruk  

Pengungsi bencana (Foto : Thomas Aquinus/ Trubus.id)

Trubus.id -- Pertengahan November atau masuknya musin hujan menjadi ancaman bagi para pengungsi gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Sejak awal November sudah dua kali turun hujan, banyak pengungsi yang masih berada di tenda mulai kebingungan mau tidur di mana. Banyak masyarakat sudah mengeluh karena mulai masuk musim hujan,” terang Ridwan Hardi, Kepala Desa Timba Gadingm Kecamatan Sembalun, Lombok, NTB, Selasa (13/11).

Menurutnya intensitas curah hujan di NTB kian meningkat, membuat kekhawatiran warga korban gempa yang masih bertahan di pengungsian. Yang menjadi kekhawatiran adalah curah hujan yang tinggi akan ikut berdampak pada kondisi masyarakat yang masih bertahan di hunian sementara (huntara).

Baca Lainnya: Bina Swadaya dan ERCB Fokus Beri Bantuan di 6 Desa Terdampak Gempa Lombok

Dalam dua kali hujan lebat pada dua pekan terakhir ini, dikatakan Ridwan, genangan air hujan telah melanda kawasan huntara. Genangan air yang masuk ke kawasan huntara sudah di atas mata kaki orang dewasa.

Kondisi serupa juga terjadi di huntara yang disediakan pemerintah melalui peran BUMN Terpadu. Ridwan Hardi menilai huntara tersebut belum dapat menjawab kekhawatiran masyarakat terkait ancaman bencana alam di musim penghujan. 

"Karena keterbatasan unit (huntara), jadi tidak bisa menampung secara keseluruhan," tambahnya.

Kekhawatiran ini dirasakan oleh Mu’ad yang tinggal bersama keluarganya di salah satu hunian sementara (huntara) di lapangan bola Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun. 

Ia mengatakan, dampak dari hujan terakhir yang turun pada pekan lalu mengakibatkan huniannya tergenang air sampai batas lutut orang dewasa. 

Baca Lainnya: Huntara Mulai Dibangun untuk Korban Gempa Lombok

"Pas itu hujannya tidak lama, cuma lebat. Airnya lumayan masuk ke hunian kami," tutur Mu'ad.

Kondisi ini menyebabkan banyak di antara mereka yang memilih meninggalkan huntara dan kembali ke tenda mandiri dekat rumahnya yang rusak akibat gempa. 

"Kalau saya, mau tidak mau bertahan di sini. Makanya kemarin pas hujan itu langsung kita yang bertahan (gotong-royong) buat 'got-gotan' biar airnya tidak masuk," ujarnya lagi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: