Fenomena MJO, Warga Jogja Terancam Bencana Tanah Longsor

TrubusNews
Astri Sofyanti
12 Nov 2018   14:15 WIB

Komentar
Fenomena MJO, Warga Jogja Terancam Bencana Tanah Longsor

Tanah longsor, ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Curah hujan yang semakin tinggi di Jogja bisa memicu bencana alam. Untuk itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta, Biwara Yuswanta meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor.

“Meningkatnya curah hujan, membuat daerah aliran sungai (DAS) dan sejumlah lokasi rawan longsor harus mendapat perhatian lebih,” kata Biwara di Yogyakarta, Senin (12/11).

Guna mengantisipasi bencana tersebut, pihaknya telah menerjunkan personel untuk memantau kondisi di lapangan. Rencananya seluruh personel penanggulangan bencana BPBD se-Yogyakarta telah diinstruksikan untuk bersiaga memasuki datangnya musim hujan.

“Beberapa hari terakhir intensitas curah hujan cukup tinggi yaitu hujan lebat disertai angin. Kami juga terus memantau kondisi cuaca," tambahnya.

Baca Lainnya: Cuaca Ekstrem, Jogja Waspada Banjir dan Tanah Longsor

Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY juga telah disiagakan di sejumlah titik rawan longsor seperti di Srunen, kawasan lereng Gunung Merapi; Samigaluh di Kulonprogo; serta beberapa kawasan perbukitan di Gunungkidul.

Guna mendukung mitigasi bencana longsor, BPBD DIY tahun ini memasang Early Warning System (EWS) di tiga titik yakni di Desa Srimartani, Piyungan, Bantul; Desa Selomartani, Sleman; dan Desa Wonolelo, Pleret, Bantul.

Anggota TRC BPBD DIY Juni Putra Nugraha mengatakan, titik rawan bencana longsor belum banyak berubah yakni di Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Kokap, dan Nanggulan di Kabupaten Kulonprogo.

Selain itu titik rawan longsor ada di Kecamatan Gedangsari di Gunungkidul, Kecamatan Imogiri di Kabupaten Bantul, dan Kecamatan Prambanan di Kabupaten Sleman.

Baca Lainnya: Jogja Darurat Bencana, Ini Data Detailnya

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta melaporkan adanya potensi fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) atau aliran massa udara basah memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Yogyakarta sejak 10 sampai 14 November 2018 mendatang.

Untuk itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Agus Sudaryanto meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi genangan, banjir maupun longsor bagi warga yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

7 Pesan Jokowi kepada Kabinet Indonesia Maju

Peristiwa   23 Okt 2019 - 17:58 WIB
Bagikan: