Miris, Baru 5 Minggu Dilepasliarkan, Elang Brontok Ditembak Mati Warga

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
06 Nov 2018   20:30

Komentar
Miris, Baru 5 Minggu Dilepasliarkan, Elang Brontok Ditembak Mati Warga

Elang Brontok. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kepedulian masyarakat akan pentingnya kelestarian satwa di lindungi nampaknya semakin menipis. Buktinya, belum lama dilepasliarkan, seekor burung elang brontok sudah jadi sasaran tembak orang tak bertanggung jawab.

Burung yang baru dilepasliarkan selama 5 minggu oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY itu ditemukan mati dengan luka tembak di tubuhnya. Bangkai burung dilindungi itu sendiri berhasil ditemukan setelah petugas memantau radar yang dipasang di tubuh burung itu saat dilepasliarkan, tidak bergerak. Saat didatangi ke lokasi, ditemukan burung itu sudah tertembak sehingga tidak bisa bergerak, dehidrasi dan akhirnya mati.

Baca Lainnya : Tergolong Satwa Langka, BKSDA Yogyakarta Lepasliarkan Elang Ular Bido

Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA DIY, Andie Chandra Herwanto mengatakan, sebelumnya elang tersebut dilepasliarkan di Hutan Katongan Nglipar, Gunungkidul pada Februari 2018 silam. 

"Baru lima pekan, burung itu ditembak orang sampai mati," katanya,

Diharapkan oleh Andie, kasus penembakan pada elang tidak terulang lagi. Pemerintah, katanya, akan mengambil langkah untuk melindungi burung elang tersebut karena jumlahnya yang semakin sedikit dan termasuk hewan endemic.

“Menurunnya populasi disinyalir karena habitat asli berkurang karena rusak, seperti di DIY hutan konservasi cakupannya sangat kecil, tetapi dengan adanya hutan seperti di Gunungkidul semakin membaik menjadi peluang untuk lokasi rilis raptor,” kata Andie.

Terkait jumlah populasinya sendiri saat ini baru akan diinventarisir terutama berfokus di Gunungkidul dan Kulonprogo. Rilis atau pelepasliaran ini juga berfungsi untuk melihat habitat asli burung tersebut, lokasi mana yang paling pas.

Baca Lainnya : BKSDA Jatim Lepasliarkan Ratusan Burung Murai dan Cucak Hijau Hasil Sitaan

Dikatakan Andie sebelumnya pada Selasa (30/10) lalu dilakukan penandaan (tagging) pada elang yang dirilis sebagai tahap akhir sebelum dilepasliarkan, Senin (5/11). Penandaan menggunakan cincin atau ring pada kaki, selain itu elang juga dipasang potongan kain kuning di bagian sayap lengkap dengan ID BKSDA DIY beserta nomor Handphone Quick Response. Proses penandaan digunakan untuk memudahkan monitoring pasca pelepasliaran.

Kepala BKSDA DIY Junita Parjanti, melalui siaran persnya mengharapkan semua pihak, termasuk masyarakat semakin sadar dan aktif dalam membantu upaya konservasi.

“Undang-undangnya ada dan sudah jelas. UU no 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya sehingga kegiatan yang melingkupi perburuan, perdagangan dan kepemilikan terhadap satwa tersebut [dilindungi] adalah illegal, dan bisa diancam dengan pidana sampai dengan lima tahun atau denda sampai dengan Rp100 juta,” ujarnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: