BPS Laporkan Sektor Pertanian Menyusut Sebabkan Pengangguran di Desa Meningkat

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
06 Nov 2018   10:00

Komentar
BPS Laporkan Sektor Pertanian Menyusut Sebabkan  Pengangguran di Desa Meningkat

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2018 berada di angka 5,34 persen, membaik dibandingkan tahun lalu sebesar 5,5 persen. Tetapi, jika dilihat secara nasional, tingkat pengangguran di desa justru meningkat karena sektor pertanian menyusut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, kenaikan tingkat pengangguran di desa meningkat lantaran jumlah pekerja sektor pertanian yang juga menyusut.

Pekerja di sektor pertanian tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari jumlah penduduk bekerja 124,01 juta jiwa. Sementara di tahun lalu, jumlah pekerja sektor pertanian di angka 35,9 juta orang atau 29,68 persen dari jumlah penduduk bekerja 121,02 juta orang.

Baca Lainnya : Program Aksi Inovasi Petani Muda PSP3 IPB Cegah Urbanisasi Milenial di Desa

"Penurunan tingkat pengangguran terjadi di tengah kenaikan angkatan kerja dari 128,06 juta orang menjadi 131,01 juta orang per Agustus kemarin. Artinya, penyerapan tenaga kerja berbanding lurus dengan pertambahan jumlah tenaga kerja.Ternyata ada perbedaan pola kenaikan pengangguran baik di desa maupun di kota. Di desa ini tingkat pengangguran memang meningkat sedikit," ujar Suhariyanto, Senin (5/11).

Suhariyanto menambahkan ini  merupakan kondisi yang wajar. Sebab, pekerja sektor pertanian ingin mencari penghidupan yang lebih layak sehingga memutuskan untuk berhenti bertani. Namun, ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan baru, tapi ada pula yang masih menjadi pengangguran. 

Selain itu, eks petani kadang harus rela merantau ke kota demi mencari pekerjaan yang lebih layak. Sayangnya, mereka tidak segera mendapat pekerjaan, sehingga memberatkan angka pengangguran di kota.

Ia mencontohkan provinsi Banten yang memiliki tingkat pengangguran 8,52 persen karena banyak pendatang yang ingin bekerja di sektor industri, tetapi tak terserap.

Baca Lainnya : Mentan RI Cetuskan Program Magang Petani Indonesia ke Taiwan

Tingginya angka pengangguran di desa, lanjut Suhariyanto, juga bukan indikasi bahwa program padat karya tunai dari dana desa (cash for work) tidak berhasil. Menurutnya, program cash for work menitikberatkan pada pekerjaan konstruksi, bukan penggarapan sawah.

Sementara itu, jumlah pekerja konstruksi bertambah dari 8,13 juta jiwa di tahun lalu menjadi 8,3 juta pekerja di tahun ini.

"Kami juga masih mempelajari fenomena ini, nanti pada Desember kami akan menerbitkan survei potensi desa untuk membedah apa saja yang terjadi di tingkat desa," papar dia. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: