Unik, SD di Semarang Didik Siswa Soal Pertanian Sejak Dini

TrubusNews
Karmin Winarta | Followers 0
05 Nov 2018   16:00

Komentar
Unik, SD di Semarang Didik Siswa  Soal  Pertanian Sejak Dini

Salah satu kegiatan SDIST (Sekolah Dasar Islam Sains dan Teknologi) Attaqwa (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ada aktivitas yang unik di SDIST (Sekolah Dasar Islam Sains dan Teknologi) Attaqwa hari itu. Tampak seorang guru dan para siswa belajar di luar ruangan. Mereka sedang belajar langsung mengenai tanaman. Sekolah Dasar yang beralamat di Dusun Pendingan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang ini melakukan panen kangkung.

Sekolah Dasar ini memang tidak hanya menjalankan kurikulum yang telah ditetapkan oleh dinas pendidikan. Menurut penasehat Yayasan,  M Sa'bani konsep SDIST Attaqwa adalah membentuk karakter anak sejak dini, yakni bisa bersosialisasi, bermasyarakat dengan skillnya dan mampu memberdayakan lingkungannya masing-masing, tidak harus keluar dari lingkungannya. 

Baca Lainnya: Danny Setyawan , Berdayakan Warga Melalui Rumah Baca Sangkrah

"Secara global, sekolah ini adalah tempat pendidikan yang mampu memenuhi kompetensi, baik akademik, spiritual, skill sesuai potensi lingkungan yang ada sehingga kita menerapkan sain dan teknologi pada anak-anak mulai dari pertanian, perikanan, pertenakan juga Teknologi Informasi. Seperti apa yang ditugaskan Tuhan mengamankan bumi agar tetap lestari, "katanya kepada Trubus.id Senin (5/11).

(Kegiatan belajar mengajar soal dunia pertanian/ FOTO: Istimewa)

Menurut M Sa'bani sampai sekarang jumlah siswa di sekolah tersebut 102 siswa. Memang termasuk masih sedikit, ia memang sengaja membatasi jumlah siswa karena idealnya satu guru maksimal mendidik 15 siswa. Kegiatan yang dilakukan siswa di bidang pertanian diantaranya pembuatan kompos, pembuatan pupuk untuk kebutuhan tanaman, penanaman tanaman obat, pembibitan, budidaya tanaman keseharian seperti sayuran: kangkung, sawi, tomat.

SD ini telah merancang program pembiyaan sekolah yang dibiayai dari proses pembelajaran itu sendiri. 

"Jadi kita mau bikin Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) semahal-mahalnya tapi bisa dibiayai dari praktek pembelajaran yang dilakukan para siswa. Kita asumsikan satu anak merawat 5 polibag, ini kan praktek pembelajaran. Mereka tidak bekerja tapi praktek bermacam-macam mata pelajaran dari kegiatan itu, "katanya

Baca Lainnya: Kuningan Kreatif, Gaya Mandiri Anak Muda Milenial dalam Membangun Kampung

Praktek tersebut mau tidak mau akan menghasilkan panen dan hasilnya akan dikonsumsi oleh warga dan wali murid. Kedepan hasil panen itu akan dikomersialkan melalui koperasi. Dari hasil koperasi ini akan bisa dipakai untuk membiayai pendidikan. Jadi dari hasil pembelajaran anak itu nantinya bisa untuk menggratiskan biaya pendidikan.  

M Sa'bani optimis, hal itu segera terwujud karena selain dari hasil pertanian, sekolah itu juga mengembangkan peternakan, perikanan dan teknologi informasi. Menurutnya peternakan yang mampu ditangani oleh anak-anak adalah kelinci dan kambing.

( M Sa'bani , penasehat yayasan/ Foto: Doc Pribadi)

Salah satu kegiatan rutin para siswa di sekolah adalah pembiasaan menyiram tanaman sebelum masuk kelas. Menurutnya kebiasaan ini juga dikembangkan di rumahnya masing-masing. 

Sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah ini membuat para siswa lebih bersemangat, karena bisa belajar langsung ke alam sehingga tidak membosankan. Pelajaran di dalam kelas hanya ketika membuat rangkuman dan kesimpulan-kesimpulan apa yang telah didapatkan di lapangan.

Inspiratif bukan?

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: