Stok Jagung Terbatas, Pengusaha Ternak Beralih Impor Gandum 

TrubusNews
Binsar Marulitua
01 Nov 2018   10:28 WIB

Komentar
Stok Jagung Terbatas, Pengusaha Ternak Beralih Impor Gandum 

Jagung, ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Keputusan pemerintah menutup keran impor jagung sejak tahun 2015 berujung pada desakan pembenahan data yang dinilai kurang akurat. Para Pengusaha ternak kini beralih mengimpor gandum sebagai bahan pengganti jagung.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan akurasi data yang bermasalah terlihat ketika pemerintah memutuskan untuk menutup impor jagung pada 2015 dengan alasan pasokan mencukupi. Data jagung nasional yang dinilai kurang akurat  mempengaruhi kebijakan produksi serta cadangan jagung.

"Ketika data salah, maka kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak efektif," kata Imelda di Jakarta. 

Imelda mengatakan penutupan keran impor jagung tersebut justru membuat para pengusaha beralih untuk mengimpor gandum  sebagai bahan pakan ternak pengganti jagung. Logikanya, ketika data tersebut sudah tepat, seharusnya tidak ada pengalihan penggunaan komoditas, karena produksi dalam negeri telah memadai.

Baca Lainnya: Kementan Lakukan 4 Langkah Strategis Atasi Turunnya Harga Telur

"Ini salah satu contoh dimana data pangan Indonesia tidak akurat dan berpengaruh terhadap kebijakan Indonesia," katanya.

Presiden Peternak Layer (ayam petelur) Nasional Ki Musbar Mesdi mencurigai adanya data jagung yang tidak akurat karena harga komoditas ini untuk bahan pakan ternak sedang tinggi.

Kondisi yang dipicu oleh keterbatasan stok jagung tersebut, menurut dia, bisa berdampak pada kenaikan harga ayam dan telur.

Ki Musbar pun meminta adanya upaya mengatasi kelangkaan pasokan, karena permintaan jagung untuk bahan pakan ternak sangat tinggi yaitu mencapai 780 ribu ton per bulan.

Padahal kelangkaan stok jagung akan terjadi pada periode Desember hingga Maret, karena kondisi cuaca yang tidak menentu dapat mempengaruhi hasil produksi dan pola tanam.

Selain itu, data BPS juga memperlihatkan bahwa luas lahan jagung di Indonesia saat ini mengalami penyusutan dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca Lainnya: Selain Harga Turun, Peternak Ayam Petelur Kesulitan Pakan

"Ini mempertaruhkan 1,8 juta pelaku peternak unggas. Nasibnya mau dikemanakan?," kata Ki Musbar.

Meski demikian, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan salah satu alasan kenaikan harga jagung untuk pakan karena adanya persoalan distribusi. 

Menurut dia, sentra produksi jagung yang berjauhan dengan produksi pakan ternak telah mempengaruhi harga jagung.

"Ini yang kita harapkan ke depan, industri pakan itu bisa tidak mendekat kepada sentra produksi jagung, untuk memudahkan distribusi," katanya.

Ia menambahkan persoalan distribusi pangan termasuk jagung menjadi tanggung jawab seluruh instansi terkait yang berhubungan langsung dengan pengadaan bahan makanan, tidak hanya Kementerian Pertanian. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: