Peneliti LIPI Ubah Tempurung Kelapa Jadi Listrik Hemat Energi

TrubusNews
Astri Sofyanti
26 Okt 2018   13:00 WIB

Komentar
Peneliti LIPI Ubah Tempurung Kelapa Jadi Listrik Hemat Energi

Kawat superkonduktor (Foto : Trubus.id / Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat konsumsi listrik dalam negeri pada tahun 2017 mencapai 1.012 Kilowatt per Hour (KWH)/kapita, naik 5,9 persen dari tahun 2016. Sedangkan tahun ini, pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 kwh/kapita. 

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia memiliki berbagai sumber daya mineral yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kelistrikan, namun ketergantungan Indonesia masih banyak bergantung pada impor material maju. Untuk itu, perlu adanya nilai tambah bagi sumber daya mineral dalam negeri dalam bentuk pengembangan material berbahan baku lokal yang mudah didapatkan.

Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian terkait super konduktor berbahan baku lokal dan elektroda baterai lithium berbahan baku tempurung kelapa. 

Baca Lainnya : Peneliti LIPI: Infrastruktur Mampu Tingkatkan Devisa dari Sektor Pariwisata

Sebagai informasi sejak tahun 2010, permintaan superkonduktor di pasar global naik secara signifikan, khususnya superkonduktor tipe High Temperature Superconductors (HTS). Hal ini karena penerapan material superkonduktor dapat mengurangi energy loss serta menghasilkan energi yang ramah lingkungan. 

“Salah satu material maju yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bahan pendukung teknologi maju adalah HTS ini,” kata peneliti dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Agung Imaduddin saat ditemui Trubus.id di Gedung Widya Sarwono LIPI, Gatot Subroto, Jumat (26/10).

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, bahan baku HTS yang memiliki nilai TC (critical temperature) tinggi dan berbahan baku yang banyak dimiliki oleh Indonesia adalah superkonduktor jenis Bi-Sr-Ca-Cu-O atau disebut BSCCO.

Baca Lainnya : Peneliti LIPI Ungkap, Sektor Pariwisata Jadi Solusi Alternatif Saat Rupiah Lemah 

“LIPI telah melakukan penelitian mengenai superkonduktor sejak tahun 2006 dengan menggunakan bahan Nb3Sn, Bi-Sr-Ca-Cu-O, MgB2, dan FeSeTe. Hasilnya berupa prototype kawat superkonduktor,” tambahnya.

Dikatakan Agung, aplikasi kawat superkonduktor terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energy listrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI). 

“Untuk itu masih diperlukan kerjasama untuk pengembangan ke skala industri untuk dapat membuat kawat superkonduktor dengan skala yang lebih panjang untuk aplikasi trafo dan kabel transmisi listrik tegangan tinggi,” tambahnya.

Menurutnya, keuntungan dari penggunaan superkonduktor bisa menghemat cost akibat lost listrik mencapai Rp8,5 miliar/kilometer/tahun. Sementara itu, Achmad Subhan Peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, saat ini tengah mengembangkan baterai lithium dengan elektroda dari tempurung kelapa. 

Baca Lainnya : LIPI: Sistem Mitigasi Bencana di Indonesia Harus Dibenahi

“Tempurung kelapa digunakan karena mengandung bahan karbon aktif yang bisa digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda. Bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktifitas listrik baik ionik maupun elektronik,” ucapnya. 

Achmad menambahkan, penggunaan karbon aktif yang optimum seperti tempurung kelapa sebagai komponen elektroda baterai lithium dapat meningkatkan nilai kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi. 

“Tempurung kelapa ini digunakan karena biaya yang dikeluarkan lebih efisien serta mampu menghasilkan produk elektroda yang lebih tinggi performanya,” paparnya.

Baca Lainnya : Peneliti LIPI Minta Semua Pihak Jangan Asal Bicara Soal Gempa

Menurutnya, proses pembuatan karbon aktif yang sesuai untuk kebutuhan industri baterai dari bahan baku utama tempurung kelapa sangat berpotensi untuk dikembangkan.

“Pengembangan dari proses biomas menjadi karbon aktif dalam skala industri perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan apliklasinya dalam proses fabrikasi baterai lithium,” tutup Achmad. [NN]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: