BPBD Gunungkidul Petakan Lokasi Rawan Bencana Saat Musim Hujan

TrubusNews
Astri Sofyanti
25 Okt 2018   11:30 WIB

Komentar
BPBD Gunungkidul Petakan Lokasi Rawan Bencana Saat Musim Hujan

Ilustrasi rawan longsor (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan. Guna mengantisipasi bencana alam saat musim hujan berlangsung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta mulai melakukan pemetaan lokasi rawan bencana terutama longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edy Basuki di Gunungkidul, mengatakan, jika melihat dari data bencana longsor BPBD tahun 2017, ada empat kecamatan di Kabupaten Gunungkidul masuk kategori rawan longsor. Keempat kecamatan itu meliputi kecamatan dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni Kecamatan Gedangsari, Nglipar, Patuk, dan Ponjong.

“Kalau dilihat dari data tahun lalu, di Kecamatan Gedangsari 34 kejadian, Patuk dan Nglipar 14 kejadian, kemudian Ponjong 23 kejadian. Ada juga longsor di Tepus, Semin, Karangmojo tapi jumlahnya sedikit," kata Edy di Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, Kamis (25/10).

Baca Lainnya : Kekeringan Hantui 77 Desa di Gunung Kidul, 5 Kecamatan Kritis

Lebih lanjut pihaknya mengungkapkan, untuk mengantisipasi adanya korban jiwa saat bencana longsor terjadi, beberapa alat peringatan dini bencana alam atau Early Warning System (EWS) telah dipasang di 30 titik sehingga peringatan yang nantinya muncul dapat segera direspons cepat oleh masyarakat.

"Seluruh kecamatan mempunyai EWS, rata-rata dua EWS di satu kecamatan," tambahnya.

Selain pemasangan EWS, dikatakan Edy, BPBD juga telah mengimbau masyarakat yang tinggal di lokasi rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat terjadi hujan deras. Bahkan, saat hujan turun dan mempengaruhi kondisi tanah menjadi labil, masyarakat disarankan untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Baca Lainnya : BPBD DIY: Bencana Kekeringan di Gunung Kidul Belum Emergency

Pihaknya berharap masyarakat dapat lebih waspada dan selalu siap siaga menghadapi bencana alam.

"Kami juga terus memberikan pelatihan kepada warga melalui Desa Tangguh Bencana (Destana)," tutupnya. [NN]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: