Peringatan Hari Pangan di Kalsel Ibarat Bangunkan Raksasa Tidur

TrubusNews
Thomas Aquinus
15 Okt 2018   12:00 WIB

Komentar
Peringatan Hari Pangan di Kalsel Ibarat Bangunkan Raksasa Tidur

Lahan rawa (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor berpendapat, peringatan HPS (Hari Pangan Sedunia) ke-38 yang digelar di Kalimantan Selatan layaknya membangun raksasa tidur. Hal tersebut cukup beralasan karena Kalsel merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan rawa lebak cukup luas. 

Menurutnya, lahan wara lebak sebelumnya tidak terkelola, kini dengan adanya program pemerintah pusat atau HPS ke-38 membawa perubahan cukup signifikan terhadap Kalsel terutama Kabupaten Batola.

"Lahan yang ada di Kalsel ini, sebetulnya sangat luas sekali, begitu juga lahan tidurnya. Makanya saya ibaratkan kedatangan HPS di Kalsel ini, sama dengan membangun raksasa tidur tersebut," ujar Sahbirin.

Baca Lainnya : Jelang Hari Pangan Nasional, Kementan Tingkatkan Pemanfaatan Lahan Rawa

Sahbirin mengungkapkan untuk mencapai hal tersebut tentu tidak terlepas dari peran serta dan kemauan seluruh pihak terutama masyarakat. Apalagi persoalan lahan tidur saat ini memang kerap menjadi masalah, terutama saat musim kemarau, maka tidak jarang lahan tidur menyebabkan kebakaran dan menimbulkan asap hingga gangguan penerbangan pesawat.

Untuk itulah Sahbirin menaruh harapan besar dengan terselenggaranya HPS bagi Kalsel agar tidak  hanya ceremonial saja melainkan juga berkelanjutan. Terutama dalam mewujudkan kembali Kalsel meraih gelar Lumbung Padi, tidak hanya sebagai swasembada pangan nasional melainkan bila perlu dunia. Peringatan HPS sendiri dipusatkan di Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Baritokuala (Batola), Kalsel (16/10).

"Kami sangat berterimakasih sekali kepada presiden yang telah memprogramkan dan menggelar kegiatan ini melalui Kementan. Kami akan bekerja habis-habisan untuk mewujudkan Kalimantan Selatan khususnya menjadi daerah lumbung padi nasional maupun dunia," ujar Gubernur Kalsel.

Baca Lainnya : Jokowi Siap Ubah 7,9 Ha Rawa Jadi Lahan Pertanian Produktif

"Untuk persiapan sendiri saat ini bahkan sudah mencapai 90 persen kurang lebih, tinggal finishing saja lagi," tambahnya.

Dijelaskan Sahbirin, kegiatan HPS juga sejalan dengan program pemerintah provinsi Kalsel yakni Revolusi Hijau. Program Revolusi hijau sendiri adalah membiasakan masyarakat kalsel untuk menanam untuk anak cucu masa akan datang.

"Revolusi hijau yang kami maksud ini adalah menanam untuk anak cucu kita. Karena biasanya kalau menanam untuk diri sendiri, mindset akan males. Tapi sebaliknya, apabila menanam tersebut untuk anak cucu kita, maka alangkah semangat," terangnya.

Selain Revolusi Hijau, Sahbirin juga berencana akan memperkenalkan revolusi bahasa.Hal tersebut seiring dengan zaman yang serba modern sehingga dibutuhkan komunikasi bahasa asing bagi putra-putri Kalsel.

"Iya, jadi nanti akan ada kedutaan dari Inggris. Dan dia akan memberikan materi di sini," ujarnya.

Baca Lainnya : Rawan Bencana, Indonesia Perlu Punya Satelit Khusus Pemantau

Sementara itu, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan RI, IR Pending Dadih Permana mengungkapkan hari pangan sedunia merupakan tema Internasional Our Action, Our Future, sehingga apa tindakan saat ini menentukan masa depan.

"Sehingga zero hunger 2030 itu bukan hal yang tidak mungkin. Makanya kemudian Indonesia mengambil tema sesuai dengan potensi yang kita miliki," katanya.

Sebagai negara agraris dan iklim yang mendukung, Dikatakannya Indonesia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh negara besar lainnya. 
Berdasarkan data Litbang Kementerian Pertanian, potensi lahan Rawa Lebak pasang surut total sekitar 34 juta hektar, yang sekitar 9,3 juta itu punya potensi bisa ditempatkan sebagai basis budidaya padi.

Baca Lainnya : Rencana Tata Ruang Wilayah Harus Berdasarkan Pemetaan Rawan Bencana Geologi

"Nah, seperti yang gubernur bilang tadi mengingat olah alih fungsi lahan cukup tinggi, sehingga bila kita biarkan saja, maka kita pun akan kehilangan basis produksi," ujarnya.

Oleh sebab itu, momentum Hari Pangan Sedunia adalah kesempatan menggerakkan serta melakukan optimasi lahan rawa pasang surut tersebut sebagai basis produksi.

"Sebagai gambaran, semua lahan rawa kita disini existing kalau mereka berbudidaya tergantung pada alam pada saat air masih tinggi mereka nggak bisa tanah tunggu sampai surut. Ini bisa biasanya sampai enam hingga bulan,” terangnya.

Namun kini sebaliknya, dengan teknologi yang pihaknya kembangkan melalui Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal PSP ditugasi oleh Kementerian Pertanian, pihaknya mencoba mengendalikan dan mengatur tata air di daerah rawa dengan membuat folder dan kanal-kanal.

"Kanalnya itu akan menjadi long storied ya. Sedangkan foldernya ini sebagai pelindung pada saat air tinggi. Sehingga lahan pertanian yang ada di dalamnya, itu terkelola dengan baik," jelasnya. [NN]


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Ini 5 Daerah di Jawa Barat dengan Kasus Covid-19 Tertinggi

Peristiwa   11 Agu 2020 - 09:18 WIB
Bagikan:          
Bagikan: