Kenang Korban Gempa, Petobo dan Balaroa Akan Dijadikan Memorial Park

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
14 Okt 2018   10:00

Komentar
Kenang Korban Gempa, Petobo dan Balaroa Akan Dijadikan Memorial Park

Kondisi pascalikuifaksi Perumnas Balaroa (Foto : Trubus.id / Thomas Aquinus Krisnaldi)

Trubus.id -- Kehancuran wilayah Petobo dan Balaroa yang terkena bencana alam likuifaksi dikemukakan oleh mantan anggota DPD Sulteng Ichsan Loulemba sangat sulit jika wilayah tersebut akan dibangun ulang. Untuk itu dirinya mempunyai ide daerah tersebut dijadikan monumen ataupun hutan kota.

“Kalau saya sih ada ide, satu jadi monumen, sekaligus makam nama-nama korban, sisanya taman kota atau hutan kota, tinggal soal pendataan,” ujarnya saat diskusi ringan bersama tim Bina Swadaya.

Ide tersebut muncul karena banyaknya bangunan yang rusak dan luas lahan yang besar dikatakannya sangat tidak mungkin untuk ditata ulang. Tentunya jika akan ditata ulang, banyak permasalahan yang akan timbul seperti kepemilikan lahan.

Baca Lainnya : Hasil Kajian di 40 Desa, Inilah Bantuan yang Dibutuhkan Korban Bencana Pascagempa Palu

Sebelumnya, menurut data BNPB, wilayah Petobo yang terkena dampak parah karena ‘ditelan bumi’ mencapai 180 hektare dari total luas keseluruhan sekitar 1.040 hektare. Diperkirakan masih ada 5.000 orang yang tertimbun tanah di wilayah Balaroa dan Petobo. 

“Jumlah itu menurut informasi yang disampaikan kepala desa. Tapi masih belum terverifikasi,” ujar Sutopo dalam konferensi pers di Gedung BNPB.

Dikatakan Sutopo, ada 1.445 unit tumah di Balaroa, sementara, jumlah rumah yang rusak di Petobo diperkirakan ada 2.050 unit. 

Sejalan dengan ide Ichsan Loulemba, sebelumnya Gubernur Sulteng Longki Djanggola dalam rapat koordinasi penanganan pascagempa, Senin (8/10) juga diputuskan daerah tersebut akan dijadikan memorial park (monument bencana) untuk mengenang para korban yang masih terkubur. 

Baca Lainnya : Jumlah Toilet Minim, Pengungsi Gempa Palu Terancam Penyakit

Longky juga menyampaikan peristiwa gempa itu ada keanehan yang belum pernah terjadi selama ini di daerah tersebut. “Dari hasil kunjungan saya ke Biromaru, Petobo, dan Balaroa, terlihat dampak likuefaksi sangat berbeda beda,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Palu Hidayat sudah menugaskan Kadis PU dan Tata Ruang Palu untuk mengkaji terkait relokasi permanen dan pembangunan huntara bagi masyarakat korban bencana. Menurutnya, asumsi sementara perlu dibangun sekitar 5.000 rumah untuk masyarakat Petobo, Balaroa, dan di beberapa lokasi di wilayah pantai Teluk Palu. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: