BKSDA Jatim Lepasliarkan Ratusan Burung Murai dan Cucak Hijau Hasil Sitaan

TrubusNews
Syahroni
12 Okt 2018   20:30 WIB

Komentar
BKSDA Jatim Lepasliarkan Ratusan Burung Murai dan Cucak Hijau Hasil Sitaan

Kasubdit Sumber Daya Genetik, Direktorat Konservasi Keanekargaman Hayati, Ditjen KSDAE KLHK, Moh Haryono (kanan) saat melepasliarkan burung sitaan di Hutan Desa Pasir Panjang, Jumat (12/10). (Foto : Doc/iNews)

Trubus.id -- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur bersama instansi terkait, Jumat (12/10) siang melepasliarkan ratusan burung hasil sitaan ke habitat aslinya di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Diketahui, burung-burung yang dilepasliarkan hari ini merupakan burung sitaan hasil giat bersama beberapa instansi dalam melaksanakan pengawasan terhadap peredaran satwa khususnya burung yang berasal dari alam di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Setelah melalui proses penanganan satwa di Taman Safari Prigen dan mengacu pada prosedur pelepasliaran satwa, ditetapkan jumlah satwa yang layak untuk dikembalikan ke habitat asal berjumlah 210 ekor.

Baca Lainnya : Polisi Sita 443 Ekor Burung Langka dari Perusahaan Penangkaran di Jatim

Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 ekor burung dikembalikan ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Burung-burung itu terdiri dari 50 ekor burung murai batu dan 109 ekor burung cucak hijau yang masuk daftar satwa dilindungi serta 11 ekor burung cucak jenggot. 

Sementara itu, 40 ekor burung yang dilepasliarkan di Kotawaringin Barat, Kalimantan tengah terdiri dari 20 ekor murai batu dan 20 ekor burung cucak hijau.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi mengatakan, burung-burung ini merupakan hasil sitaan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan akan dijual atau dipasarkan ke wilayah Jawa.

"Status ini hasil dari operasi penertiban oleh rekan-rekan di lapangan terutama di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak yang sering dijadikan tempat penyelundupan satwa liar," katanya, Jumat (12/10).

Baca Lainnya : 3 Jenis Burung Dikeluarkan dari Daftar Satwa Dilindungi, Ini Penjelasan KLHK

Proses pelepasliaran di habitat asal ini telah melalui prosedur pelepasliaran satwa yang diantaranya adalah pengecekan kesehatan satwa, kemurnian jenis, penentuan lokasi, rehabilitasi dan habituasi satwa serta langkah-langkah teknis lainnya sesuai standart IUCN. Hal tersebut tentunya akan dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan BKSDA Kalimantan Timur selaku penerima satwa. 

Sementara itu di Kotawaringin Barat, Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Genetik, Direktorat Konservasi Keanekargaman Hayati, Ditjen KSDAE KLHK, Moh Haryono mengatakan, pemilihan Kotawaringin Barat sebagai lokasi pelepasliaran puluhan burung karena hasil penyelidikan dan penyidikan serta uji genetik dan jenis burung, berasal dari daerah ini. 

"Sebenarnya yang diamankan lebih dari 40 ekor, sisanya dilepasliarkan ke Kalimantan Timur karena berasal dari sana. Ini sebagai komitmen KLHK untuk menjaga keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Supaya tidak punah. Sebab burung burung ini harus terus dijaga kelestariannya," ujarnya usai melepasliarkan 40 burung hasil sitaan tersebut.

Baca Lainnya : Paket Burung Kolibri dan Pleci Tujuan Cirebon, Diamankan di Pelabuhan Bakauheni

Saat ini ada tren penurunan populasi burung di Indonesia. Dari 500 jenis burung yang dilindungi di Indonesia sebagian kecil sudah punah. 

"Oleh karena itu upaya kita mencegah supaya yang masih ada terus berkembang biak dan semakin banyak jumlahnya," katanya.

Kegiatan pelepasliaran satwa ini merupakan komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaksanakan pengelolaan insitu dalam kerangka road map pengelolaan species,sekaligus merupakan rangkaian memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada tanggal 5 November 2018 mendatang. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bina Swadaya Kritisi UU Kontroversial Cipta Kerja

Peristiwa   24 Nov 2020 - 18:26 WIB
Bagikan:          
Bagikan: