Gunduli Hutan Pelalawan, Belasan Pembalak Liar Diringkus Polisi

TrubusNews
M Syukur | Followers 2
11 Okt 2018   17:15

Komentar
Gunduli Hutan Pelalawan, Belasan Pembalak Liar Diringkus Polisi

Belasan pelaku pembalakan liar di hutan Pelalawan diringkus polisi. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Sudah puluhan hektare hutan alam di Desa Serapung, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dijarah pembalak liar. Diketahui, sejak 3 tahun belakangan, para pembalak liar yang datang dari desa tetangga menjarah kayu di hutan alam tersebut. Alasan mereka pun beragam. Ada yang mengaku hanya untuk membangun rumah, namun ada juga yang menjualnya ke tengkulak kayu di daerah lain.

Beruntung, sebelum aksi para pembalak liar ini semakin parah, polisi berhasil menangkap belasan pelakunya. Tak tanggung-tanggung, 52,8 ton kayu beragam jenis disita sebagai barang bukti. Sebanyak 16 pelaku ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau. Di antara para tersangka ini ada anak dan ayah atau masih punya hubungan kekerabatan.

Kayu barang bukti pembalakan liar yang disita Polda Riau. (Foto: Trubus.id/ M Syukur)

Menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Komisaris Besar Gidion Arif Setiawan, penebangan dilakukan musiman. Pasalnya ketika petugas menggerebek beberapa lokasi usai Idul Fitri, mereka hanya menemukan alat-alat yang biasa digunakan untuk pembalakan liar saja.

Baca Lainnya : 30 Ton Kayu Ilegal Tak Bertuan, Ditemukan di Sungai Lokon, Aceh Timur

"Orangnya tidak ada di lokasi, barulah beberapa pekan kemudian ditangkap karena pelaku beraksi lagi," kata Gidion di Pekanbaru, Kamis (11/10) siang.

Ia menyebutkan, lokasi perambahan ini sangat dekat dengan lahan konsesi sebuah perusahaan hutan tanaman industri. Para pelaku masuk ke lokasi menggunakan sampan dan pompong. Hasil penebangan kemudian diolah menjadi papan dan kayu balok panjang. Kayu yang di antaranya jenis meranti lunak itu lalu diikat untuk dibentuk menjadi rakit, kemudian dialirkan ke kanal untuk ditarik memakai sampan bermesin.

Karena aksinya ini tidak ketahuan hingga tiga tahun, belasan perambah hutan ini lalu ada yang menetap di sana membangun pondok. Alat-alat penebang seperti gergaji mesin disimpan para pelaku di pondok sementara itu.

"Ini kemudian meresahkan masyarakat sekitar. Keadaan ini kalau tidak ditangani bisa menimbulkan konflik sosial dan juga memudahkan hutan terbakar karena di sana daerah rawan Karhutla," sebut Gidion.

Baca Lainnya : Kayu Ulin dan Meranti Ilegal asal Kutai Timur, Gagal Mendarat di Barru

Gidion menyebutkan, belasan tersangka ini tidak ada pemberi modal atau cukong. Mereka secara kolektif ke kawasan itu menebang kayu lalu dibawa ke desanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ayah dan anak yang terlibat kasus pembalakan liar di Pelalawan, Riau. (Foto: Trubus.id/ M Syukur)

"Kalau ditanya sudah berapa lama, mereka jawabnya ada yang setahun ada yang dua tahun. Namun hasil penyidikan kami itu sudah tiga tahun," kata Gidion.

Dalam aksinya, belasan perambah ini punya peran masing-masing. Ada yang bertugas sebagai penebang, ada yang bertugas sebagai pembelah, pengolah, pengikat untuk dijadikan rakit dan pembawa memakai sampan.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 81 ayat 1 huruf b dan atau Pasal 83 ayat 1 Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pencegahan Perusakan Hutan.

Salah satu tersangka yang mengaku bernama Arif, menyebut dia ditangkap bersama anaknya dalam kasus ini. Diapun menyebut tidak ada atasan dalam merambah hutan karena dilakukan atas kesepakatan bersama dan berbagi hasil penebangan.

"Untuk bangun rumah dan membiayai keluarga. Ini anak saya yang sebelah. Di antara kami punya hubungan semua, hubungan keluarga," sebut Arif.

Baca Lainnya : Kasus Pertama Belum Terungkap, Polisi Kembali Temukan Ribuan Kayu di Sungai Musi

Selain Arif, tersangka lainnya yang ditangkap bernisial MY, Dr, Mr, Uw, Di, KL, RK, Yn, In, Al, AZ, By, Ar, RB dan Sy. Untuk penahanan selanjutnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menyerahkannya ke Polres Pelalawan.

Selain 16 tersangka ini, polisi juga menangkap tiga pelaku pembawa kayu dari Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Ketiganya berinisial Ro, Ad dan Sf. Turut disita sebuah truk Hino yang membuat kayu olahan Meranti merah.

"Jadi 52,8 ton itu termasuk barang bukti ketiga tersangka ini. Kasusnya beda laporan polisi," sebut Gidion. 

Gideon menyebut, tiga tersangka berinisial Ro, Ad dan Sf ini berasal dari Sumatera Barat dan merupakan orang suruhan yang namanya sudah dikantongi petugas.

"Pemodalnya ada di Padang, masih dilakukan penyelidikan," kata Gidion.

Baca Lainnya : 73 Meter Kayu Olahan Ilegal Disita, KLHK Buru Otak Intelektual Penyelundupan

Gidion menyebut truk yang dibawa tiga pelaku ditangkap beberapa waktu lalu di Jalan HR Soebrantas Kota Pekanbaru, tepatnya di pertigaan lampu merah Tabek Gadang, Kecamatan Tampan. Tujuan kayu ini ke Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir. Pengakuannya mau diantar ke lokasi pembuatan kapal.

Menurut Gidion, kayu Meranti merah yang dibawa tiga pelaku punya nilai jual yang tinggi. Kayu jenis ini hanya terdapat di hutan alam dan keberadaannya makin sulit ditemui.

Salah seorang tersangka berinisial Ro ditemui wartawan tidak mau menyebut identitas bosnya yang berada di Padang. Diapun enggan menyebut berapa upah yang diterimanya untuk membawa kayu itu ke Rokan Hilir.

"Cuman dikasih uang makan aja, untuk transpor gitulah. Orangnya di Padang," kata Ro. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: