Berkaca pada Kearifan Lokal di Balik Rumah Adat Tahan Gempa

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
11 Okt 2018   14:44

Komentar
Berkaca pada Kearifan Lokal di Balik Rumah Adat Tahan Gempa

Deretan rumah adat yang berdiri rapih dan tahan gempa di desa Hilimondregeraya, Nias Selatan. (Foto : Okipetruslaoh.wordpress.com)

Trubus.id -- Masyarakat tradisional Indonesia sejak zaman dahulu telah menyatu dan hidup selaras dengan alam dan lingkungan. Karena itu, menghadapi bencana, baik gempa tektonik, gempa vulkanik, gunung meletus, angin ribut, tsunami maupun banjir, masyarakat tradisional Indonesia sudah mewarisi karya turunan nenek moyang yang sangat bernilai, yaitu rumah tahan gempa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan, pengetahuan masyarakat lokal yang hidup selaras dengan lingkungan memang terkadang bertentangan dari hasil pengetahuan dan teknologi (Iptek) maupun akal sehat. Akan tetapi diperlukan perpaduan Iptek dan kearifan lokal dalam penanggulangan bencana. 

Dijelaskan Sutopo, dalam kearifan lokal yang bergantung pengetahuan roh nenek moyang, masyarakat pesisir Mentawai dan Bagian Sumatera lainnya akan segera mengungsi ke perbukitan jika melihat hewan-hewan aneh dari laut terdalam muncul ke bibir pantai. 

Hal itu bisa jadi sebagai tanda gunung api bawah laut bakal meledak yang diikuti rentetan gempa dan tsunami, maupun tsunami akibat pergeseran lempeng dan bencana geologi lainnya. Atau, hewan hewan liar dari gunung bakal turun ke desa -desa sebelum gunung meletus.

Selain itu, dari beberapa catatan, percaya pada pemangku adat atau pemegang  mampu mengurangi korban jiwa dari bencana. Seperti Smong di Simeleu dan Tetew, dari Mentawai seolah mempunyai pengelihatan magis sehingga selalu berhasil meramal bakal terjadinya gempa, tsunami dan bencana alam lainnya sehingga memungkinan masyarakat adat mengungsi tanpa perlu adanya sirine bahaya.

"Tetapi, kondisi saat ini sudah tidak memungkinkan karena banyak binatang yang sudah berada di tempat tersebut, punah dan ancaman bencana semakin meningkat. Dengan Iptek saja juga tidak mungkin karena pada kenyataanya masyarakat belum sepenuhnya percaya peringatan dini yang diberikan alat tersebut, terlebih banyak yang rusak " Jelas Sutopo di Graha BNPB, Jakarta. 

Ia menjelaskan salah satu, kearifan lokal yang bisa dipadukan dengan Iptek dalam kesiapsiagaan bencana saat ini adalah memodifikasi rumah adat dengan gaya kekinian. Walaupun, sejatinya memang tidak ada rumah tahan gempa. Yang ada sebenarnya lebih kepada rumah yang mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana

.Ada beberapa contoh rumah adat yang patut ditiru, berikut penjelasannya: 

1. Rumoh Aceh 

Rumah tradisional Aceh berbentuk panggung dan berbahan kayu yang didesain berdasarkan kondisi alam daerah Aceh. Rumoh Aceh mampu bertahan hingga ratusan tahun karena konstruksi yang kokoh dan mutu bahan bangunan yang berkualitas. Kunci kekokohan dan keelastisan ini adalah pada hubungan antar struktur utama yang saling mengunci, hanya dengan pasak dan bajoe, tanpa paku, serta membentuk kotak tiga dimensional yang utuh (rigid).

Rumoh Aceh. (Foto: Istimewa)

Keelastisan ini menyebabkan struktur bangunan tidak mudah patah, ketika gempa hanya terombang-ambing ke kanan kiri yang kemudian kembali tegak dan jatuh kembali ke tempat semula. Sayangnya, saat ini rumoh Aceh semakin jarang ditemukan. Masyarakat Aceh lebih memilih membuat rumah dengan bahan dan desain yang lebih modern.

2. Woloan 

Rumah panggung woloan berasal dari manado, Sulawesi Utara. Bahan yang dipakai biasanya kayu besi, nyatoh dan kayu cempaka.

Rumah adat woloan khas Sulawesi. (Foto: istimewa)

Rumah Woloan sudah dikenal sejak dahulu sebagai rumah tahan gempa karena jika dinilai berdasarkan nilai kerapatan, keteguhan lentur statis maksimum, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan gesernya. 

3. Rumah Joglo 

Struktur Rumah Joglo dari Jawa tengah berbahan kayu yang menghasilkan kemampuan meredam getaran atau guncangan yang efektif, lebih fleksibel dan juga stabil. Ada beberapa alasan  Pertama, rangka utama  yang terdiri umpak, soko guru, dan tumpang sari, dapat menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.

Joglo, rumah adat tradisional Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

Selanjutnya,struktur rumah joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran atau guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak terhadap kolom kolom induk merupakan earthquake responsive building dari rumah joglo.

4. Rumah Tua Bali Utara

Rumah tua di kawasan Bali Utara ini dianggap tahan akan gempa karena memiliki kontruksi yang memanfaatkan saka atau tiang kayu dan lambang serta sineb sebagai balok.

Bagian rumah adat Bali. (Foto: Istimewa)

Konstruksi rumah tua tahan akan gempa, karena menggunakan kayu dengan adanya sambungan yang fleksibel bergerak saat gempa. Kontruksi yang memanfaatkan saka atau tiang, dan juga lambang serta sineb sebagai balok pada bangunan, melindungi penghuninya dari adanya reruntuhan bangunan akibat gempa.

5.Rumah Kaki Seribu 

Desain rumah khas suku Arfak, Papua ini tahan gempa, mengingat seluruh kontruksi menggunakan kayu untuk tinggi rumah yang ternyata bervariasi. Rumah ini memiliki tiang pondasi rumah yang tersebar di seluruh bagian bawah rumah dan menjadi tumpuan utama bangunan. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya cukup kuat karena terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. 

Rumah adat kaki seribu khas suku Arfak, Papua. (Foto: Istimewa)

Dengan tinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8x6 meter, rumah ini cukup besar dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Tiang-tiang yang sangat banyak itu, mempunyai diameter 10 centimenter per tiangnya dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 centimeter antar tiang. Kerapatan inilah yang menjadikan rumah ini perlindungan dari bencana alam angin ribut, badai, gempa dan bencana lainnya. 

6. Omo Hoda 

Rumah tradisional masyarakat Nias ini dibangun di atas tumpukan kayu ulin besar dan memiliki atap yang menjulang. Bentuk atapnya yang curam dapat mencapai ketinggian hingga 16 meter.  Selain memiliki pertahanan yang kuat, Omo Sebua telah terbukti tahan terhadap gempa. 

Rumah tradisional khas Nias. (Foto: Istimewa)

Bangunan ini memiliki pondasi yang berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal yang juga berukuran besar serta bahan-bahan lainnya yang dapat meningkatkan fleksibilitas dan stabilitas terhadap gempa bumi. Atap pelana di bagian depan dan belakang juga memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap hujan.

7. Rumah Gadang 

Rumah gadang dari Sumatera Barat ini memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan 8 Magnitudo. Rahasianya terletak pada rancangan rangka rumah. Rangka Rumah Gadang dibuat dari kayu. Bentuknya dibuat menyerupai sebuah perahu. Ada dua anjungan di ujung kanan dan kiri.

Rumah Gadang khas Minang. (Foto: Istimewa)

Anjungan ini dibuat tanpa tiang penyangga. Akibatnya, rangka kayu bagian atas seperti ditarik ke ujung kanan dan kiri. Karena tanpa penyangga, anjungan ini membuat rangka kayu jadi mendapat beban ke bawah. Dengan begitu, rangka rumah ini berdiri sangat kokoh.

Rumah Gadang juga tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur. Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi. Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut.

8. Rumah Laheik 

Rumah Laheik dari jambi tersusun dari kayu yang saling disatukan dengan pasak. Antarbagian juga disatukan dengan ikatan tambang yang terbuat dari ijuk.

Rumah adat Jambi, Kajang Leko. (Foto: Istimewa)

Laheik banyak ditemukan di Kecamatan Danau Kerinci. Biasanya, Laheik ditinggali beberapa keluarga dan dibuat menjadi susunan beberapa rumah yang disatukan. Namun sayangnya, Rumah tradisional Kerinci, yakni umoh laheik atau umoh panja, keberadaannya kini semakin langka, bahkan bisa dikatakan telah punah. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: