Peneliti BMKG Imbau Ibukota Sulteng Pindah

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
10 Okt 2018   09:44

Komentar
Peneliti BMKG Imbau Ibukota Sulteng Pindah

Jembatan hancur diguncang gempa 7,4 magnitudo di Sulteng (Foto : Thomas Aquinus/ Trubus.id)

Trubus.id -- Peneliti gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr.Muzli menyarankan ibu kota Sulawesi Tengah dipindah dari Palu ke tempat lain. Hal ini menurutnya karena Palu merupakan wilayah rawan gempa.

"Jika dilihat, Palu wilayahnya sangat riskan sekali. Kalau bisa dipindah, karena disamping penuh garis patahan, juga berada di atas endapan sedimen berupa batuan lunak yang tebal, "kata Muzli di Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan bahwa Palu berada di garis sesar Palu Koro, yang merupakan patahan aktif yang memanjang sekitar 500 kilometer mulai dari Selat Makassar hingga ke Pantai Utara Teluk Bone.

Menurutnya, wilayah Palu  merupakan area batuan lunak yang bisa dilihat secara kasat mata melalui Google Map, dan  bisa diketahui seberapa tebalnya endapan sedimen tersebut.

"Warnanya putih kalau dilihat dari Google Map, itu juga menunjukkan topografinya rendah," sambungnya.

Kondisi ini berbahaya, karena endapan sedimen tebal membuat rentan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah.

"Fenomena likuifaksi terjadi karena Palu berada di daerah batuan lunak atau sedimen. Jadi ketika gempa terjadi, menyebabkan permukaan tanah retak dan air permukaan bercampur dengan endapan sedimen, kemudian menjadi lumpur," paparnya lagi.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, sedimen mudah sekali bercampur dengan air, dan tanah di bagian bawah yang keras menjadi landasan tergelincirnya sedimen yang bercampur air. Ditambah lagi gaya gravitasi  menyebabkan tanah seakan bergerak.

Dikatakan Muzli, saat gempa Lombok, juga terjadi likuifaksi, tapi fenomena likuifaksi tidak terjadi dalam skala besar seperti yang terjadi saat gempa 7,4 magnitudo mengguncang Sulawesi Tengah. Kondisi ini terjadi karena endapan sedimen tak setebal seperti yang terjadi di Palu.

Ia menjelaskan, saat terjadi gempa di daerah yang memiliki endapan sedimen tebal, maka tinggi gelombang atau amplitudo gempa mengalami pembesaran dan kompensasinya kecepatan gelombang gempa menjadi rendah. Sementara saat gempa mengguncang daerah dengan kondisi tanah yang keras, maka menyebabkan amplitudo gempa kecil dan kecepatan gempa menjadi besar.

"Untuk bangunan, lebih aman di tanah yang keras dibandingkan di daerah dengan endapan sedimen yang tebal," ucapnya lagi.

Menurutnya, endapan sedimen tebal di Palu tersebut yang menyebabkan banyaknya bangunan rusak parah saat gempa berkekuatan 7,4 magnitudo terjadi pada Jumat (28/9) lalu.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: