Polisi Sita 443 Ekor Burung Langka dari Perusahaan Penangkaran di Jatim

TrubusNews
Binsar Marulitua
09 Okt 2018   21:30 WIB

Komentar
Polisi Sita 443 Ekor Burung Langka dari Perusahaan Penangkaran di Jatim

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menyita sebanyak 443 ekor burung langka yang dilindungi dari sebuah perusahaan penangkaran di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Kapolda Jatim, Irjen Pol. Luki Hermawan mengatakan, langkah ini diambil karena izin operasional penangkaran CV Bintang Terang di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember itu sudah habis sejak tahun 2015 silam. Selama izin operasi penangkaran mereka habis, perusahaan ini disinyalir masih beroperasi dan menampung burung langka dari luar penangkaran yang diduga ilegal.

"Perusahaan yang berada di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari tersebut menjalankan usaha penangkarannya. Akan tetapi, sebagian membeli burung langka dari luar yang diduga ilegal dan dijual lagi ke luar negeri," kata Luki Hermawan di Jember, Selasa (9/10). 

Baca Lainnya : Kakatua Bernilai Ratusan Juta Selamat dari Perdagangan Ilegal

Menurut dia, barang bukti berupa burung langka tersebut kini dititipkan di lokasi penangkaran milik PT Bintang Terang dengan mendapat pengamanan yang ketat dari aparat kepolisian. Sebagian lagi kini dititipkan di BKSDA Jatim yang berada di Sidoarjo.

Langkah selanjutnya, Polda Jatim akan bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk membedakan mana burung hasil penangkaran dan burung yang dibeli dari luar.

"Seluruh barang bukti tidak bisa dibawa untuk penyidikan karena dikhawatirkan akan stres dan berdampak pada kesehatan burung langka tersebut. Kami juga mendapat laporan ada burung yang mati sehingga kami akan memantau laporan perkembangan itu," katanya.

Sementara itu, Polda Jatim juga telah menetapkan pemilik penangkaran berinisial LDA sebagai tersangka. Ia dijerat dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayat Pasal 21 yang ancaman hukumannya pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Nandang Prihadi menambahkan, saat ini sebanyak 35 ekor burung dititipkan di lembaga konservasi dan 10 ekor dibawa ke Kantor Balai Besar KSDA Jatim. Sedangkan sisanya masih dititipkan di penangkaran CV Bintang Terang dengan pengamanan dari aparat kepolisian.

"Kami masih mengidentifikasi satwa mana saja hasil penangkaran dan hasil perdagangan ilegal seperti yang disampaikan Bapak Kapolda Jatim bahwa ada satwa yang dibeli dari pasar ilegal tersebut," katanya.

Baca Lainnya : Gawat, Populasi Kakatua Jambul Kuning Tinggal 40 Ekor di NTT

Sejauh ini, lanjut dia, kondisi burung langka tersebut masih sehat dan tidak stres. Namun, ketika dikerumuni banyak orang, satwa yang dilindungi tersebut bisa stres.

"CV Bintang Terang izin operasional penangkarannya sudah mati sejak 2015 dan izin edar luar negeri sudah habis pada bulan September 2018," katanya.

Ratusan burung yang diamankan tersebut terdiri atas 11 jenis burung, yakni 212 ekor nuri bayan (Eclectus roratus), 99 kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), 23 ekor kakatua jambul orange (Cacatua moluccensis), 82 ekor kakatua govin (Cacatua goffiniana), 5 kakatua raja, seekor kakatua alba, seekor jalak putih, 6 ekor burung dara mahkota (Gaura victoria), 4 ekor nuri merah kepala hitam (Loriyus lory), 6 ekor anakan nuri bayan, dan 6 nuri merah. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bina Swadaya Kritisi UU Kontroversial Cipta Kerja

Peristiwa   24 Nov 2020 - 18:26 WIB
Bagikan:          
Bagikan: